Banyak Sopir Taksi Resign, Berbondong-bondong Gabung Grab

Sejumlah pengemudi taksi melakukan aksi unjuk rasa melintas di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (30/4/2014).
Sumber :
  • VIVAnews/Ikhwan Yanuar

VIVA.co.id - Keberadaan angkutan pelat hitam berbasis aplikasi online belakangan tengah diminati masyarakat. Sebab, angkutan ini memiliki tarif yang murah ketimbang taksi konvensional.

Bayangkan saja, jika taksi konvensional dikenakan biaya Rp7.500 sekali buka pintu, angkutan pelat hitam seperti GrabCar atau Uber hanya dikenakan biaya Rp3 ribu. Untuk satu menitnya, GrabCar atau Uber hanya mematok tarif Rp300 rupiah. Artinya, jika naik mobil selama perjalanan 15 menit, cuma Rp6.500.

Menurut Andy, juru bicara Paguyuban Pengemudi Taksi Online, karena biaya yang murah meriah, maka tak heran masyarakat kemudian beralih ke transport yang dinilainya lebih bersahabat di kantong. Lantaran kebutuhan akan transportasi murah yang besar, maka jumlah sopir pun semakin dibutuhkan.

"Saat ini banyak sopir taksi konvensional yang berhenti dari tempat kerjanya, seperti Blue Bird, Express, dan lainnya. Alasannya satu, karena mereka tergiur dengan penghasilan yang lebih besar dari sopir taksi konvensional," kata Andy saat berbincang di Indonesia Lawyers Club, tvOne, Selasa malam, 15 Maret 2016.

Andy menyatakan, pendapatan di angkutan pelat hitam berbasis aplikasi sangat menjanjikan. Andy sendiri yang juga sopir GrabCar kini memiliki penghasilan lebih tinggi 60 persen ketimbang saat masih menjadi sopir taksi konvensional.

"Banyak sekali teman-teman Blue Bird hubungi saya untuk minta gabung. Mereka sepertinya tergiur. Sebenarnya banyak dari mereka yang ingin bergabung, tapi kadang terkendala karena ada target atau tanggungan yang belum terpenuhi ke perusahaan taksi tempatnya bekerja," kata dia.

Padahal, kata Herman, syarat untuk menjadi sopir angkutan pelat hitam sangatlah mudah. Cukup menyiapkan Surat Izin Mengemudi (SIM) dan surat keterangan dari kepolisian.

"Perusahaan taksi geram mungkin karena kesal karena banyak sopirnya yang pindah, selain itu pendapatan juga turun," kata Andy. "Saya sendiri bukan kredit atau beli mobil sendiri, tetapi sewa dengan rental yang sudah punya CV, pajak dan kelengkapan lainnya."

Hal itu diakui Direktur Operasional Express Group, Herman Gozali. Dia menyatakan, banyak sopir-sopirnya yang kemudian kabur untuk memilih menjadi sopir angkutan pelat hitam. Sebab, pendapatan mereka di taksi legal dianggap tak lagi mencukupi kebutuhan hidup.

"Mobil mereka Kijang, Avanza, tapi yang beli bukan sopir, pasti ada penyandang dananya," kata Herman.

Herman sendiri kesal karena keberadaan angkutan pelat hitam membuat pendapatan perusahaannya turun sebanyak 10-20 persen. "Perusahaan taksi Express kalau rugi enggak, cuma pendapatan turun."

Dia menjelaskan, sebenarnya perusahaan taksinya tak takut dengan adanya aplikasi online. Saat ini, Express Group sendiri juga merupakan bagian dari taksi online, karena telah memiliki aplikasi. Namun, dia mengatakan bila persaingan saat ini dengan angkutan pelat hitam tidak fair, karena mereka tidak dibebankan biaya pajak apapun dan tidak mengantongi izin trayek.

"Jika diibaratkan, Myke Tyson dengan tangan diikat dipukul-pukul anak kecil pasti jatuh juga. Sebab kita diikat peraturan, sementara mereka tidak. Coba bayangkan, kami sering diperingatkan soal KIR, kelengkapan pool, seragam driver, argo rutin dari Dishub dan Dinas, salah sedikit ditangkap kami," kata Herman.

Herman pun berharap agar ke depannya pemerintah bertindak tegas untuk mengedepankan penerapan aturan yang berlaku, dimana angkutan umum legal yang harus diutamakan.

"Jangan dibilang kami tidak melek teknologi, kami ini juga punya itu (aplikasi online). Cuma yang setara dong, mereka bisa banting harga, karena mereka tidak ada modalnya. Sementara kita diikat tarif, ada SK Gubernur, Dishub, yang kalau tarif berubah saja, ditangkap kami. Serius ini," ujarnya.