10 Tahun, Mobil Suritno Berbahan Bakar Elpiji Melon

Suritno mengendarai mobil pick up berbahan bakar elpiji melon.
Sumber :
  • VIVA.co.id/ Dwi Royanto

VIVA co.id - Menggunakan gas elpiji melon sebagai pengganti bahan bakar premium sepeda motor adalah hal biasa. Tapi tidak bagi Suritno (42), seorang pedagang gas ini justru menggunakan gas elpiji melon untuk mengisi bahan bakar mobilnya. Kok bisa?

Warga RT 1 RW 1 Desa Api-Api, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah itu memang dikenal nyentrik oleh para tetangga. Di saat elpiji melon tiga kilogram mulai langka dan bahan bakar minyak (BBM) terus naik, ia justru merakit mobil miliknya menggunakan bahan bakar elpiji.

Ya, mobil jenis Carry 1.5 bernopol G-1763-NB itu menjadi satu-satunya mobil terunik di lingkungan tempat tinggalnya. Lewat modal pengetahuan seadanya, pria yang hanya lulus SMP itu mampu membuat rakitan sederhana mobil dengan elpiji melon. Dia, bahkan tidak memiliki keahllian khusus di bidang otomotif maupun perbengkelan.

"Istilahnya, saya otodidak merakit ini (mobil berbahan gas). Saya tidak belajar dari siapa-siapa, atau dari internet. Cuma saya memahami cara kerja pembakaran mesin. Saya coba-coba, ternyata berhasil," ujar bapak dua anak itu di rumahnya, Kamis 28 Mei 2015.

Awalnya, ide Suritno mengganti premium dengan gas elpiji pada mobilnya mendapatkan cemoohan banyak orang. Mereka tidak percaya, kalau ide gila Suritno ini akan berhasil.

"Bengkel-bengkel mobil itu meremehkan dan tidak mungkin bensin dapat diganti pakai gas. Setiap kali melintas ke pelanggan dan orang yang melihat ada tabung gas di dalam mobil dianggap lelucon," ujar dia.

Cemoohan itu, justru menjadikan niat Suritno untuk lebih jauh serius menggeluti idenya. Dia ingin membuktikan kepada semua orang bahwa bahan bakar kendaraan yang memakai premium bisa diganti memakai gas elpiji.

"Saat itu, saya masih terus meyakini bahwa sifat gas akan menghasilkan uap yang tak jauh beda dengan pembakaran premium. Dan, itu saya buktikan," tuturnya.

Suritno menjelaskan, perakitan mobil dengan bahan gas diakuinya cukup irit dari premium. Untuk merakitnya, dia, bahkan tak perlu menggunakan peralatan khusus.

Tabung gas melon 3 kg hanya harus diletakkan di sebelah jok mobilnya. Alat bantunya hanya berupa selang, seperti yang ada di kompor gas.

Gas elpiji melon lalu dirakit dengan alat tambahan sederhana memakai regulator high pressure. High pressure, yakni sebuah jarum dipakai untuk kompor gas para penjual nasi goreng dan mi ayam.

Alat bantu lain, ternyata bisa didapatkan Suritno dengan cukup mudah. Suritno hanya harus beli di berbagai toko kompor gas elpiji. Harganya pun relatif terjangkau dan lebih murah yakni Rp70 ribu saja.

Jika dibandingkan converter kit mobil jauh lebih murah. Karena, alat biasa seharga Rp7 juta. Itu pun harus pesan dari Jakarta.

Secara sederhana, sistem kerja bahan bakar bensin akan mengubah premium menjadi gas ketika masuk di karburator mesin. Namun, untuk bahan bakar gas elpiji justru langsung menghasilkan pengapian. Meski begitu, ada lubang saluran bensin yang perlu ditutup.

Konversi bahan bakar itu, bahkan sudah Suritno praktikkan selama 10 tahun lebih. Saat itu, pemerintah menaikkan harga BBM subsidi jenis premium dari Rp4.500 menjadi Rp6.000 per liter. Hingga harga BBM terus naik saat ini, dia tak pernah sekali pun membeli premium untuk mengisi bahan bakar mobilnya.

Kini, sudah menjadi pemandangan biasa, saat Suritno mendistribusikan barang dagangannya ke sejumlah daerah di Pekalongan. Jok depan mobil pick up warna hitam Suritno, selalu didampingi satu buah elpiji melon sebagai bahan bakar.



Mobil Carry yang digunakan untuk armadanya setiap hari menampung muatan 180 tabung, atau setara 1,5 ton berkeliling jalur Pantura Wiradesa-Pekalongan, dan daerah sekitar Kecamatan Wonokerto. Diperkirakan, satu tabung elpiji melon dapat menggantikan premium 10 liter, atau setara 50 kilometer.

"Pemakaian satu tabung bisa menggantikan 10 liter bensin. Jika kendaraan sepeda motor 10 liter bensin, atau setara 500 km," ujar dia.

Sementara itu, untuk kebutuhan bahan bakar kendaraan roda dua memakai premium dalam sehari untuk distribusi membutuhkan tiga liter, hanya butuh satu tabung gas elpiji melon selama tiga hari.

"Biasa sehari pakai sepeda motor butuh bensin 3 liter, saya pakai tabung gas elpiji bisa tiga hari. Jadi, selisihnya cukup banyak," katanya.

"Semisal harga premium Rp6.500 dikalikan tiga liter, berati mengeluarkan biaya operasional sekitar Rp20.000. Sedangkan, harga gas melon Rp17.000. Itu pun masih bisa digunakan untuk dua hari berikutnya," ujar dia. (asp)