Pemerintah Terus Genjot Proyek Mobil Murah Terbaru

Agya Simulator
Sumber :
  • VIVAnews/Herdi Muhardi

VIVA.co.id – Mobil murah ramah lingkungan atau Low Cost Green Car (LCGC) memang menjadi amunisi ampuh di saat kondisi penjualan otomotif yang biarpet. Namun ternyata, mobil yang dicanangkan pemerintah dan mulai gencar diproduksi pada 2013 itu nyatanya akan kembali dikembangkan pemerintah.

Setelah LCGC, pemerintah menyatakan terus menggenjot pengembangan menjadi LCEC alias Low Carbon Emission Car (LCEC).

Menurut Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawiran, LCEC akan menjadi perhatian pemerintah ke depan. "Kita sudah gunakan program LCGC yang mengonsumsi bahan bakar cukup irit. Satu liter maksimal bisa hingga 20 kilometer," katanya, di Bogor, Jawa Barat, Selasa, 24 Mei 2016.

Lebih lanjut, menurutnya, harus ada program selanjutnya untuk meningkatkan angka ekspor ke luar negeri. Hal inilah yang sekiranya wajib ditangkap matang para produsen otomotif di Indonesia.

"Harus ada peningkatan untuk menjadi kendaraan yang memiliki emisi yang rendah agar bisa ekspor ke luar negeri. Kita akan bekerja sama dengan Kementerian Perekonomian untuk membahas insentif dari mobil emisi rendah (LCEC) tersebut," kata dia.

Terkait LCEC, proyek tersebut masih tergolong kategori mobil yang bakal dijual dengan harga terjangkau. Banderol nantinya masih akan berkutat pada angka Rp100 jutaan.

Regulasi mobil listrik

Sementara itu, belakangan mobil listrik juga menjadi salah satu perhatian banyak pabrikan otomotif. Namun, pemerintah dikatakan saat ini terus mempersiapkan pengawasan dan penanganan khusus terhadap mobil listrik, sebab tentunya berbeda dari mobil yang biasa beredar di pasaran Indonesia.

"Kita mau tahu mobil listrik, kita perlu nyiapin apa (untuk dukungan). Tantangan kita bersama, bahwa kondisi jalan di Indonesia masih belum baik. Kita harus mempersiapkan itu, termasuk charging station harus disiapkan. Tidak bisa orang menggunakan mobil listrik terus ‘ngecas’ di mana saja," katanya.

Ke depan, menurutnya, harus ada pembuatan mobil listrik pula yang dirakit secara lokal "Sekarang mobil listrik banyak yang impor. Nah sekarang kita berpikiran bagaimana mobil listrik diproduksi di Indonesia," kata dia.