Geng Mama-mama Muda, Aduhai Serunya
Begitu juga yang dilakukan kelompok Celfit Cibel Family. Diakui Puti, setiap seminggu sekali mereka menggelar pengajian.
"Jadi kita ngaji bareng karena mayoritas rata-rata berhijab. Biasanya hari Kamis. Kita sudah punya komitmen jadi enggak hanya olahraga saja, duniawi aja tapi juga diseimbangkan dengan mengaji," ujarnya.
Menurut Puti, memiliki kelompok tak selalu negatif. Justru banyak hal positif yang didapatkan setelah sering berkumpul dengan kelompok olahraganya tersebut.
"Daripada kita menghabiskan waktu di sekolah anak ngerumpi dengan ibu-ibu yang lain, mending olahraga. Dari enggak kenal, jadi kenal dan saling berbagi informasi, networking, saling support," ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Achie. Lebih banyak positifnya daripada negatifnya dengan adanya kelompok pertemanan tersebut.
"Jadi suami-suami kita juga saling kenal, nambah teman dan informasi," katanya. "Insya Allah persahabatan kita positif," tambahnya.
Apa kata psikolog?
Tidak dipungkiri, yang namanya geng atau kelompok bukan hanya milik selebriti, musisi atau orang kenamaan lainnya. Namun orang awam juga memiliki perkumpulan sendiri hanya saja tidak terpublikasi karena bukan dari kalangan siapa-siapa.
Bahkan, kelompok ibu-ibu muda ini juga tak mau kalah dari geng selebriti. Mereka membentuk atau memiliki geng dengan nama atau sebutan yang kekinian.
Tak hanya sekadar berkumpul bersama, para ibu ini juga terlihat kompak di berbagai kesempatan. Melihat keseruan mereka yang dipamerkan di media sosial, rasanya membuat iri para ibu muda lain yang akhirnya terdorong membentuk geng serupa. Tapi, seperlu apa para ibu ini membentuk kelompok pertemanan seperti itu?
Menurut psikolog Anna Surti Ariani, membentuk geng seperti itu sebenarnya antara perlu dan tidak. Dikatakan perlu karena sebagai ibu mereka tentunya butuh dukungan dan wadah untuk berbagi.
"Terkadang para ibu ini ragu dengan pengasuhan anaknya sudah benar atau belum, tumbuh kembangnya harus bagaimana, mereka butuh masuka dari ibu-ibu lain, karena itu butuh kelompok pertemanan tertentu," kata psikolog dengan sapaan akrab Nina kepada VIVA.
Geng atau kelompok pertemanan ini menjadi tidak perlu saat sudah terjadi banyak hubungan yang tidak sehat di dalamnya. Misalnya, ada persaingan yang sangat kental.