Predikat Terbaik untuk Soeharto
- Office of the Vice President of the Republic of Indonesia
Qodari menggarisbawahi bahwa untuk bidang yang lain, seperti politik dan hukum, orde reformasi lebih baik dari Orde Baru. Dia melihat hal itu karena terkait dengan kondisi saat ini yang secara ekonomi masyarakat masih belum membaik secara keseluruhan.
"Ada kaitannya dengan isu atau masalah ekonomi sekarang. Karena masyarakat menganggap ekonomi pada era Orde Baru lebih baik maka Pak Harto yang dipilih," ujar Qodari.
Qodari menuturkan dalam surveinya, surveyor menanyakan kepada responden: saat ini Indonesia punya tujuh presiden, dari Soekarno, Soeharto, sampai Jokowi. Manakah di antara mereka yang paling berhasil menjalankan pemerintahan?
"Mayoritas dari mereka menjawab Pak Harto. Saya kira bisa dipahami karena Pak Harto berkuasa selama 32 tahun," kata dia.
Dari sisi responden, Qodari juga tidak mengkhususkan pada kalangan tertentu. Sebanyak 1200 orang berasal dari semua golongan, kelompok, atau profesi sehingga bisa dikatakan menggambarkan masyarakat umum.
Evaluasi era reformasi
Terlepas dari itu, Qodari menyatakan bahwa surveinya adalah salah satu bagian dari evaluasi 20 tahun era reformasi. Bila sebagian besar responden menyebut Soeharto dan era Orde Baru lebih baik dari sisi ekonomi dan sosial maka itu artinya di era reformasi bidang tersebut belum berjalan maksimal.
"Ini berbarengan dengan kepuasan publik intinya. Orde reformasi belum mencapai hasil maksimal, sehingga menyebabkan orang menilai Orde Baru lebih baik, Soeharto lebih baik. Ini salah satu cara bagi kami mengevaluasi reformasi," ujarnya.
Qodari menambahkan survei tahun ini sebenarnya jauh lebih baik dibanding pada 2011 lalu. Ketika itu, dia juga melakukan survei serupa. Hasilnya, masyarakat yang menyatakan lebih puas dengan Soeharto dan Orde Baru bahkan jauh lebih besar yaitu mencapai 40 persen.
"Ada kemajuan signifikan, angka turun. Dulu banyak yang tidak puas dengan reformasi sekarang lebih puas," tuturnya.
Lantas, apakah hasil survei ini bisa menjadi penanda partai yang berbau Cendana dan Orde Baru akan mendapat tempat di masyarakat?
Qodari menyatakan belum tentu. Pertama pada 2004, Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) yang didirikan Siti Hardijanti Rukmana yang akrab disapa Mbak Tutut juga menjual Soeharto dalam kampanyenya. Tapi mereka tidak lolos ke DPR. Bahkan pada survei lain dari Indo Barometer, memperlihatkan peluang Tommy Soeharto menjadi capres hanya 0,1 persen saja.