Menebak Pendamping Jokowi

Presiden Joko Widodo
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

"Jokowi kalau dari survei kami, butuh cawapres yang dekat dengan umat Islam, dari santrilah anggapannya. Selama ini Jokowi dicap rendah dalam kedekatan dengan umat Islam," ujar Hendri kepada VIVA, Rabu, 11 Juli 2018.

Hendri merincikan analisisnya berdasarkan hasil survei terakhir pihaknya. Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang Zainul Majdi menempati posisi tertinggi untuk aspek santri dengan 34,1 %. Selanjutnya, ada Romahurmuziy (27 %), Cak Imin (22,9 %), dan Mahfud MD (7%), Dien Syamsudin (6,1 %), serta Said Aqil Siradj (2,9 %). "Tokoh-tokoh ini dianggap pas kalau dari kalangan santri," papar Hendri.

Terkait kemunculan nama lain seperti Sri Mulyani dan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko dinilai sebagai dinamika jelang pendaftaran pilpres. Namun, nama-nama ini tak bisa disepelekan bila benar masuk daftar nama yang sudah dikerucutkan. Apalagi melihat dinamikanya bila koalisi Jokowi diprediksi akan mengumumkan pada last minutes.

"Ya ini mungkin karena memang strategi politik. Kita enggak tahu lima nama itu kan. Mungkin last minutes itu waktu vital kayak Pilpres 2014 yang muncul JK kan," sebut Hendri.

Baca: Mahfud MD Muncul, PKB Diramal Batal Dukung Jokowi

Namun, memang kondisi Pilpres 2014 tak bisa disamakan dengan Pilpres 2019. Sebab, saat ini Jokowi berstatus sebagai presiden petahana. Ia harus bisa menentukan pilihan pendamping untuk menggenjot elektabilitasnya.

"Jokowi kan incumbent, enggak gampang nemuin pendamping yang pas. Tapi, juga koalisi parpol pendukung Jokowi harus solid, jangan pecah kalau misalnya enggak sesuai harapan," tutur Hendri.

Foto: Jokowi-JK diarak dengan andong menangkan Pilpres 2014.

Kongsi Pecah

Penentuan nama figur cawapres dinilai menjadi persoalan pelik bagi koalisi pendukung Jokowi. Faktor pertama karena pendamping Jokowi jadi rebutan partai pendukung yang ingin menempatkan kadernya. Belum lagi kemungkinan peluang calon dari luar koalisi.

"Faktor keduanya kan Jokowi incumbent tapi elektabilitas belum kuat dan aman. Makanya posisi cawapres ini vital buat dongkrak," sebut analisis politik UIN Jakarta Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno.

Bagi dia, bila koalisi Jokowi tak merapatkan barisan maka akan muncul kegelisahan parpol pendukung yang cemburu karena merasa tak ditampung. Dinamika politik sekarang memperlihatkan gambaran kondisi kekecewaan. Ia mencontohkan sikap politik PKB dan Golkar.