Selamat Tinggal Path

Logo media sosial Path
Sumber :
  • Twitter/@xiaomiindonesia

Hilang Ciri Khas

Namun, seiring berjalannya waktu, kebijakan Path yang hanya menyediakan 150 pertemanan, diperlebar menjadi 500 pertemanan. Pengamat media sosial, Nukman Luthfie, mengatakan bahwa perubahan tersebut bisa jadi merupakan cara Path untuk mengakomodir keinginan pengguna, agar pola interaksinya kurang lebih sama dengan platform Instagram dan Facebook.  
 
Namun, hal itu justru membuat Path hilang ke-khas-annya. Sehingga pengguna yang mendambakan privasi dengan teman akrab, menjadi merasa terusik. Kehilangan ciri khas inilah yang disebut Nukman, turut andil dalam lengsernya eksistensi Path.


 
“Jadi, orang-orang yang di Facebook punya teman banyak, tapi ngobrolnya cuma sama sedikit orang, menemukan kenyamanan di Path. Ia bisa posting apa saja, ketawa-ketiwi, enggak perlu jaim (jaga image), dan lain-lain, karena temannya khusus yang sudah akrab,” kata Nukman.  
 
“Ketika naik menjadi 500 pertemanan, jadi terasa apa bedanya dengan Facebook?” ujarnya menambahkan.
 
Aspek persaingan menjadi faktor lain penyebab Path tutup buku. Nukman menyebutkan, Path gagal berkompetisi dengan media sosial lain. “Persaingan di media sosial itu sangat ketat,” ujar Nukman.  
Jika dibandingkan antara Path dan Instagram, keduanya memiliki kemiripan konsep. Foto dan video diunggah, dibubuhkan keterangan simpel, kemudian dibagikan ke linimasa, yang dapat dlihat dan dikomentari oleh lingkar pertemanan.  
 
Namun, ada yang tak dimiliki oleh Path, yaitu aspek inovasi yang rajin dilakukan Instagram. “Instagram inovasinya mengerikan,” kata Nukman. Seolah takluk pada hukum alam: ‘yang tak berinovasi, akan tergerus’, demikian pula gambaran hidup Path.  
 
Kristian juga menyampaikan pandangan yang senada dengan Nukman. Ada kesan yang ditangkap oleh pengguna: Path terlalu sederhana, sehingga ibarat ‘rumah yang sepi’. Nilai kebaruan dan keunikan juga tidak menjadi satu paket dalam layanan Path.  
 
“Terlalu sederhana. Enggak ada ‘something new’. Dia itu enggak unik sih, dibanding Facebook dan Instagram,” kata Kristian.  
 
Terlepas dari itu, Kristian mengakui bahwa ia merasakan manfaat Path sebagai platform yang mengunggulkan privasi pengguna. “Memang, ya, butuh sosial media kedua yang lebih private, apalagi Path juga pernah ramai. Kalau aku ingin share ke teman-teman tertentu, akan lebih loyal pakai Path,” ujarnya.
 
Dengan ditutupnya Path, Kristian cukup menyayangkan. Biar bagaimana pun, sebagai pengguna, Kristian pernah merasakan memberi ‘makan’ berupa data-data pada media sosial itu. Tapi ia pun tak dapat menerima kenyataan bahwa Path kini memang telah ‘almarhum’.