Seberapa Penting SIM Seumur Hidup?
- VIVA.co.id
Psikologi dan profesionalisme
Wacana masa berlaku SIM seumur hidup dinilai tidak berdasarkan riset yang matang. Pengamat kebijakan publik, Trubus Rahadiansyah menganggap, gagasan itu sangat berbahaya.
Sebab, aspek keselamatan di jalan raya mesti diutamakan, sehingga kompetensi dan kesehatan pengendara perlu diuji secara berkala.
"Profesionalisme seorang pengemudi bisa menjadi relatif rendah. Akhirnya kesadaran lalu lintas rendah, banyak terjadi kecelakaan, merugikan publik," kata Trubus di Jakarta, Jumat, 30 November 2018.
Setiap pengendara, katanya, harus diuji secara berkala kompetensi berkendaranya. Bahkan, periode masa berlaku SIM semestinya dipersingkat, dari lima tahun menjadi tiga tahun.
Trubus tidak sepenuhnya menentang gagasan tersebut. Menurutnya, hal itu bisa diterapkan, asalkan pengendara diwajibkan memperbarui kompetensinya secara berkala.
"Kalau perlu, dua atau tiga tahun diuji lagi. Pendataannya seumur hidup, tetapi mengenai profesionalismenya harus ditingkatkan," jelasnya.
Training Director of Jakarta Defensive Driving Consulting, Jusri Pulubuhu, mengungkapkan, penerbitan SIM untuk sepeda motor maupun mobil di Tanah Air masih lebih mudah, jika dibandingkan dengan negara lain. Sebab, tidak ada tes psikologi.
"Memaksimalkan aturan yang ada dalam memperoleh SIM, memang harus dilakukan. Di Indonesia, ada beberapa yang tidak dilakukan saat ingin mendapatkan SIM, baik untuk motor maupun mobil," kata Jusri saat dihubungi VIVA.
Polda Metro Jaya sejatinya sempat melontarkan wacana untuk menggelar tes psikologi saat seseorang hendak mengikuti ujian SIM. Langkah tersebut diambil untuk menyesuaikan isi Pasal 81 ayat 4 Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Aturan tersebut menyebut, seluruh pemohon SIM wajib melaksanakan tes kesehatan, termasuk psikologi. Beban biaya pemohon SIM juga bakal ditambah. Semua pemohon tes psikologi akan dibebani biaya ekstra Rp35 ribu.
Menurut polisi, tes psikologi penting untuk diterapkan. Karena, kecelakaan lalu lintas bukan hanya dikontribusikan dari kelalaian, tapi juga kondisi psikologi pengemudi.
Ketua umum komunitas Toyota Fortuner Club of Indonesia, Saladin Bonaparta, mengaku setuju dengan usulan tersebut. Menurutnya, kejiwaan dan mental seseorang ketika mengendarai mobil di jalan raya berbeda-beda.
“Orang stres atau panik cara membawa mobilnya beda. Mungkin, secara materi mereka bisa (beli mobil). Tapi, cara membawa mobil beda-beda,” ungkapnya belum lama ini.