Beban Berat di Pundak Captain Marvel

Brie Larson di film Captain Marvel.
Sumber :
  • Marvel

Teknologi Computer Generated Imagery (CGI) yang dipakai pada wajah Samuel L. Jackson dan membuatnya puluhan tahun lebih muda, juga menjadi salah satu yang paling banyak dipuji para kritikus film.

"Facelift CGI Jackson adalah contoh digital de-aging terbaik yang kita lihat di film," tulis Matt Maytum dari Total Film.

Adegan-adegan action-nya yang meski terbilang minimalis, juga tak luput dari pujian, karena disebut memiliki koreografi yang sempurna.

Kelebihan lain yang mencolok adalah film ini sama sekali tidak menghadirkan kisah cinta maupun love interest untuk tokoh Carol. Captain Marvel murni menceritakan bagaimana Carol menemukan masa lalunya kembali, mengembangkan dan belajar mengontrol kekuatannya, serta mengonfrontasi masyarakat yang berkata bahwa wanita tak bisa ikut balapan mobil, bergabung di militer atau menjadi pilot pesawat tempur.

Larson sendiri menyebut persahabatan Carol dan Maria sebagai 'kisah cinta' di film tersebut. "Ini adalah cerita tentang cinta yang hilang, ini adalah tentang cinta yang ditemukan kembali dan ini adalah alasan untuk terus berjuang dan pergi ke ujung dunia," ucap Larson, dikutip dari Cnet.

Meski begitu, film ini juga dihujani kritik pedas, karena dianggap tak mampu melampaui ekspektasi penonton. Terbukti skornya di IMDb hanya 6,5 dari 10 dan hanya 32 persen penonton yang menyukainya di Rotten Tomatoes.

CNN menuliskan bahwa Captain Marvel memang memberikan pesan kuat terkait isu persamaan gender, namun, secara keseluruhan skornya masih di bawah rata-rata dari standar film-film Marvel.

“Setelah rentetan film superhero, termasuk Black Panther yang memecahkan rekor di 'perlombaan' piala Oscar, dirilisnya Captain Marvel terasa lebih kepada suatu kewajiban. Sebuah film yang memang harus dibuat (untuk melengkapi serial blockbuster Marvel)," tulis kritikus Brian Lowry.

Sementara menurut Variety, Captain Marvel tidak melakukan sesuatu yang revolusioner. "Film ini dibuat sebagai kepingan puzzle lain untuk melengkapi cerita Marvel. Ini adalah prekuel yang mengambil latar waktu jauh sebelum saat ini, yang menjelaskan banyak hal di masa sekarang yang sebelumnya tidak terjawab," kata kritikus Owen Gleiberman.