Warisan Wartawan Tiga Zaman

Rosihan Anwar
Sumber :
  • Antara/ Fanny Octavianus

Hasilnya, timbul PWI Rosihan dan PWI B.M.Diah. Itulah awal dari kesemrawutan PWI karena untuk menunjukkan bahwa PWI B.M. Diah lebih banyak pendukungnya, maka PWI  yang waktu itu merupakan perpanjangan tangan Orde Baru, mengeluarkan kartu pers kepada sebegitu banyak orang termasuk karyawan non-redaksi di Kantor Berita Antara, misalnya, sampai  ketua RT dan RW di kompleks PWI Kebon Nanas tiba-tiba jadi “wartawan” karena mereka punya kartu pers.

Perselisihan itu begitu besar, sehingga saya, dan banyak teman wartawan Istana waktu itu, termasuk August Parengkuan, dari Kompas,  misalnya, menempelkan kertas bertuliskan “PWI Rosihan” pada kaca-kaca mobil Toyota Hardtop ketika menyertai Presiden Soeharto ke Banjarmasin tahun 1968. Bahkan kepala Humas dan Penerangan Istana waktu itu, Mayor Dwipayana, yang juga bersimpati pada Rosihan, cuma geleng-geleng kepala tanpa berusaha menghentikan tindakan kami. 

Sekarang, Rosihan sudah pergi meninggalkan kita semua. Keadaan kesehatannya menurun deras sejak istri tercintanya, Zuraida Samawi, gadis Betawi yang memberinya tiga anak, enam cucu dan dua buyut, meninggal pada 5 September 2010.

Rosihan meninggalkan warisan kepada wartawan sekarang berupa lebih dari 20 buku, ratusan tulisan di berbagai media dalam dan luar negeri. Di Harian Kompas saja dia meninggalkan entah berapa ratus tulisan selama masa antara 1997 sampai 2002, belum lagi yang di tabloid Cek & Recek, selama beberapa tahun terakhir.

Pemimpin Umum Harian Kompas, DR. Jakob Oetama, menggambarkan Rosihan Anwar dalam pengantarnya pada Semua berawal dengan keteladanan, “Syarat-syarat pokok yang membuat seseorang menjadi wartawan baik, menurut pandangan saya justru tidak berubah. Harus punya karakter ulet, berusaha terus mencari, karena itu punya sikap terbuka, peka dan peduli, punya orientasi berikut pandangan beyond serta transcend, selalu berada di tengah masyarakat  dan di antara peristiwa.”

Rosihan Anwar sudah pergi, dan tak ada orang yang bisa menulis obituari-nya sebagus dia menulis obituari orang lain. Selamat jalan, Ji. Semoga Allah memberimu tempat yang mulia. Amin.

Abdullah Alamudi, dosen senior pada Lembaga Pers Dr. Soetomo, mantan anggota Dewan Pers, mantan redaktur Harian Pedoman.