Gmail Diretas, AS-China di Ambang Cyber War
- gmail blog
Bila diklik, bukannya langsung membuka isi email, itu justru mengarahkan target ke sebuah situs palsu yang menyerupai laman depan Gmail. Di situ, target diminta mengisi akun dan password Gmail mereka. Bila target tertipu, maka selanjutnya peretas akan dapat mengakses akun pribadi Gmail target.
Kecurigaan Google diarahkan kepada para peretas China, karena jika ditelusuri, peretas ternyata berada di daerah Jinan, ibu kota Provinsi Shandong, China bagian timur. Jinan, yang terletak sekitar 400 kilometer sebelah selatan Beijing, merupakan markas biro-biro pengintaian teknis milik People's Liberation Army, salah satu angkatan perang terbesar di dunia.
Tempat itu diidentifikasi sebagai wilayah yang terkait dengan serangan yang diarahkan terhadap sistem Google tahun lalu. Google sendiri mengatakan bahwa beberapa korban dari aksi tersebut sudah diketahui dan telah diamankan. sementara itu, biro investigasi AS FBI masih terus menyelidiki kasus ini.
Namun, pemerintah China menolak mentah-mentah tudingan Google. Kemarin, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hong Lei, membantah. "China sendiri telah menjadi korban serangan peretas ini, dan pemerintah telah memberikan perhatian besar pada keamanan dunia maya," ujarnya.
Lebih lanjut, Hong Lei malah balik menuding. "Pernyataan yang menyebutkan bahwa pemerintah China mendukung serangan pembajakan, memiliki motif tersembunyi."
Pada China Youth Daily - salah satu koran yang dikendalikan oleh Partai Komunis China - pihak Akademi militer China bahkan menulis artikel yang mengklaim bahwa insiden serangan itu maupun penggunaan internet untuk mempromosikan pergantian rezim di negara-negara Arab, sebenarnya justru dilakukan oleh pemerintah AS.
"Belakangan ini, tornado Internet yang menyapu dunia ... berpengaruh secara masif dan mengguncang bumi. Di balik semua ini, terbujur bayangan Amerika," kata artikel, yang ditulis Ye Zheng dan Zhao Baoxian, dari Akademi Sains Militer.
Keduanya bahkan mengidentifikasi hal ini sebagai persiapan untuk menghadapi perang cyber. "Menghadapi pemanasan perang Internet ini, semua negara dan militer tidak bisa pasif, melainkan harus mempersiapkan diri untuk perang Internet," kata artikel itu, dikutip dari situs ABCNews.