Menguji Taji Pidato Jokowi

Presiden Joko Widodo Presiden China PM Jepang Raja Yordania
Sumber :
  • REUTERS/Darren Whiteside
VIVA.co.id - Pidato Presiden Joko Widodo soal usangnya pandangan tentang ketergantungan ekonomi dunia pada Bank Dunia, International Monetary Fund (IMF), dan Asian Development Bank (ADB) cukup menarik diamati.

Pernyataan Presiden bisa dimaknai sebagai upaya Indonesia untuk mencari kekuatan penyeimbang Amerika Serikat, demi menopang perekonomian. Di sisi lain, Indonesia juga belum bisa benar-benar lepas dari kekuatan Negeri Paman Sam itu.

Mengapa kita katakan demikian? Sebab, narasi politik Indonesia di dunia internasional adalah bebas aktif. Dalam kerangka itu, jelas Indonesia tidak bisa serta merta condong ke sebuah kekuatan poros tertentu.

Belum lagi, Indonesia masih membutuhkan berbagai sokongan untuk mengurai permasalahan dalam negeri. Koordinator Tim Ahli Perekonomian Wakil Presiden, Sofjan Wanandi, menyebut pidato Jokowi itu untuk mengingatkan bahwa lembaga pembiayaan berskala internasional lebih banyak diperlukan. Jadi, tidak melulu harus bergantung kepada ADB, World Bank, dan IMF.

"Kita membutuhkan macam-macam lembaga keuangan internasional untuk mengurangi kemiskinan dan masalah lainnya," kata Sofjan, ketika dihubungi VIVA.co.id, Kamis 23 April 2015.

Memang, meski muatan pidatonya cukup keras, namun pilihan kalimat mantan Wali Kota Solo itu cukup taktis. Presiden sama sekali tidak menyebut nama negara. Termasuk, Jokowi tidak secara eksplisit menunjuk Amerika Serikat (AS) dalam pidatonya. Dia hanya mengatakan, "dominasi negara tertentu."

"Kami mendesak reformasi arsitektur keuangan global dunia dengan tujuan untuk menghindari dominasi negara tertentu," kata Jokowi, dalam pidato pembukaan KTT Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika di Jakarta Convention Center.

Namun, masyarakat awam pun agaknya tahu, kalau negara yang mendominasi dunia saat ini adalah Amerika. Dengan kekuatan militer dan ekonominya, Amerika Serikat (AS) cukup leluasa memberikan pengaruh ke negara lain. Itu makanya, kita sering sebut mereka sebagai negara Adidaya.

AS juga memiliki kekuatan kendali atas Bank Dunia dan ADB. Di regional Asia, menurut laporan Reuters, AS dan Jepang memiliki dana setidaknya US$164 miliar di ADB.

Pada akhir 2013, pinjaman negara-negara ke ADB mencapai US$21,02 miliar atau lebih dari Rp253 triliun. China memiliki 6,5 persen saham di ADB, sedangkan Jepang dan AS masing-masing 15,6 persen.