Akhir Praktik Mengerikan "Dokter Toilet"

Juli Sowolino (34) dokter gadungan yang melakukan praktik ilegal di toilet mal.
Sumber :
  • Irwandi Arsyad

VIVA.co.id - Senin siang, 18 Mei 2015, jadi hari terakhir Jenny Sawolino (34 tahun) berpraktik. Dokter kecantikan gadungan itu ditangkap polisi. Jangankan izin praktik, pendidikan Jenny hanya sampai tingkat Sekolah Menengah Atas.

Parahnya, dokter kecantikan abal-abal itu ditangkap ketika melakukan praktik di tempat yang tidak bisa diterima nalar; di toilet umum Plaza Semanggi, Jakarta. Di tempat penuh bakteri itulah, sang "dokter" yang hanya belajar dari majalah dan internet, biasa memermak tubuh pasiennya.

Dari penangkapan itu, polisi berhasil menyita barang bukti yang digunakan sang "dokter". Di antaranya, pisau, jarum suntik, gunting, alat sulam alis, vitamin E, emulsion, obat jenis ampul avatesi, dan bahan kimia berbahaya lainnya.

Niat pasiennya memiliki wajah cantik dan bentuk payudara indah, sudah pasti gagal total. Bukan menjadikan cantik, ulah "dokter" Jenny justru sangat membahayakan pasiennya. Peralatan, obat keras dan bahan kimia lainnya yang digunakan jauh dari standar.

Akibatnya, berbagai penyakit mengerikan menyerang sejumlah pasiennya. Ada yang terpaksa harus menjalani perawatan di rumah sakit karena kerusakan pada liver. Ada yang ginjalnya bocor, wajahnya bernanah. Ada juga pasiennya yang terkena hepatitis.

"Selama tujuh hari saya menggigil nggak keruan. Mata saya kayak buta, kayak rabun semua, putih-putih nggak jelas gitu. Kepala sakit kayak ditusuk jarum," ujar korban yang tak mau disebut namanya saat berbincang dengan tvOne.

Tak tahan, akhirnya dia ke rumah sakit. Dia menjalani pemeriksaan dan perawatan penyebab penyakitnya. Oleh dokter, semua tubuhnya diperiksa.

"Hasil pemeriksaan, saya hepatitis C. Kata dokter, ini akibat pemakaian obat-obat keras. Ibu pakai obat apa. Saya nggak berani ngomong," katanya.

Seorang korban lainnya berinisial S, juga menceritakan peristiwa memilukan yang dialaminya. Wajahnya hancur setelah menjalani bedah kecantikan alat "dokter" Jenny.

S teperdaya dengan tawaran meyakinkan Jenny, yang mengklaim mampu membuat wajahnya cantik sesuai keinginan.

"Dia menawarkan harga Rp6 juta. Namanya saya orang awam, ya saya jalanin," ujar S.

Dia juga melakukan jahit benang ke wajah pasien itu. Terus berkelanjutan. "Muka saya disuntik, kening saya disuntik dengan botox. Di dagu dengan filler (zat yang disuntikkan ke dalam tubuh). Itu ternyata bukan filler, tapi cairan minyak goreng gitu," tuturnya.

Kapolres Jakarta Selatan, Komisaris Besar Wahyu Hadiningrat, mengatakan, modus yang digunakan Jenny adalah door to door atau menawarkan jasa langsung ke sejumlah korbannya. [Lihat ]

Untuk meyakinkan calon pasiennya, Jenny mengaku sebagai dokter ahli bedah yang sudah menjalankan praktik sejak 2013. Setiap kali melakukan perawatan, Jenny menarik bayaran Rp6 juta.

"Menawarkan untuk praktik kedokteran dengan mengaku sebagai dokter ahli bedah. Klien yang percaya akhirnya dilakukanlah praktik itu, dengan memperbaiki beberapa bagian wajah," ujar Wahyu.

Dari pemeriksaan, kata Wahyu, pelaku sebenarnya tidak mengetahui apa-apa soal kecantikan dan senyawa cairan kimia yang digunakan pada pasiennya.

"Perawatan muka dengan memberi suntikan ke wajah agar awet muda. Dampaknya dengan keilmuan yang tidak sesuai, wajah justru bernanah, gatal-gatal dan berdarah," kata Wahyu.

Kasatreskrim Polres Jakarta Selatan, AKBP Audie Latuheru, mengatakan, penangkapan terhadap dokter abal-abal ini berawal dari laporan seorang korban yang mengalami rusak pada wajahnya setelah menjalani perawatan.

Kemudian, korban janjian dengan "dokter" Jenny di Plaza Semanggi untuk memperbaiki kerusakan wajahnya. Saat akan melakukan praktik itulah, Jenny ditangkap tim dari Polres Jakarta Selatan.

"Ada beberapa alat bukti di TKP dan penggeledahan di indekos pelaku. Banyak sekali peralatan kedokteran yang dia simpan. Menurut pengakuannya, dia belajar secara otodidak, belajar di Google. Dari situ dia melakukan injeksi dan sebagainya. Dia hanya lulusan SMA. Belajar otodidak, kemudian melakukan praktik," Audie menjelaskan. [Baca ]

Akibat perbuatannya, Jenny dijerat pasal 196 dan pasal 197 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara.



Alat mengerikan

Dokter spesialis kecantikan, dr. Janet Stanzah yang didatangkan Polres Jakarta Selatan, memastikan semua bahan kimia dan alat yang digunakan Jenny untuk melakukan perawatan pada korbannya tidak memenuhi standar medis. Terutama jika digunakan dalam dunia kecantikan.

Janet menuturkan, dari barang bukti yang disita diketahui pisau bedah yang digunakan bukan pisau khusus bedah, melainkan pisau roti. Selain itu, benang yang digunakan dokter "toilet" untuk menjahit kulit pasiennya usai dibedah bukanlah benang khusus kecantikan. Tapi, benang jahit.

"Alatnya sangat parah, dan sangat tidak higienis. Benangnya ini benang jahit sama sekali tidak bisa diserap tubuh, tentunya risikonya infeksi, pembengkakan, nanah, pengerasan, hingga menderita hepatitis C akibat alat yang digunakan sudah berkarat," ujar dr. Janet Stanzah, Rabu 20 Mei 2015.

Janet menjelaskan, alat maupun bahan kimia yang dibeli Jenny memang dapat dibeli dengan mudah di daerah pasar Pramuka. Selain itu, di toko bahan kimia ini siapa pun bisa membeli tanpa menunjukkan identitas dokter ataupun tenaga medis.

"Jadi, memang alat dan bahan kimia ini dapat dibeli secara bebas oleh siapa pun," kata Janet.

Presiden Badan Akreditasi Anti-aging Dunia, dr. Deby Vinski, mengaku kaget dengan praktik yang dilakukan dokter gadungan Jenny. Apalagi, ketika melihat alat-alat yang digunakan untuk "praktiknya".

"Kalau dokter kecantikan, dia akan menggunakan jarum dengan nomor dan ukurannya kecil. Itu jarumnya gede-gede. Untuk pantat saja itu besar sekali. Nah ini untuk wajah," kata Deby saat berbincang di Gestur tvOne.

Kata Deby, dampak dari perbuatan Jenny sangat membahayakan korbannya. Selain obat-obatan dan alat yang jauh dari standar, tempat praktik Jenny juga sangat membahayakan. Padahal, tempat untuk melakukan bedah wajib steril.

"Dokter pun harus pakai sarung tangan, pakai baju bedah. Nah, ini dilakukan di toilet," ujar Deby.

"Kita tahu toilet adalah tempat sumber bakteri. Bakteri terburuk dari yang terburuk kita buangnya di toilet. Satu titik saja bisa jadi ribuan. Kalau masuk ke pembuluh darah, bahkan pasiennya bisa meninggal. Karena virus ada di mana-mana. Apalagi di toilet," Deby menjelaskan.

Oleh karena itu, Deby berharap agar seluruh instansi terkait untuk melakukan pengawasan lebih ekstra terhadap peredaran obat-obat medis dan bahan kimia lainnya.

"Karena ada peluang, ada pembeli, karena itulah market-nya terbuka," kata Deby.



Banyak penderita BDD

Perempuan mana yang tak mau terlihat cantik. Nyaris tak ada. Demi cantik, berbagai cara dilakukan. Termasuk operasi plastik. Tapi, sebagai manusia, selayaknya mensyukuri karunia yang diberikan Tuhan.

Namun, Psikolog Ajeng Raviando mengatakan, mensyukuri karunia Tuhan kembali kepada pribadi masing-masing. Untuk menimbulkan kepercayaan diri pada wanita, sangat berkaitan pada konsep diri.

"Apakah dia punya konsep positif, dia punya pemikiran-pemikiran positif mengenai penampilannya, sehingga dia memutuskan, perlu atau tidak yang berhubungan dengan bedah kecantikan tadi," ujar Ajeng dalam perbincangan di Gestur tvOne.

Ajeng juga menyoroti banyaknya wanita yang tidak pernah puas melakukan operasi kecantikan. Dari sisi ilmu psikologi, orang yang dimaksud termasuk penderita Body Dysmorphic Disorder (BDD).

Body Dysmorphic Disorder adalah jenis penyakit mental kronis, di mana penderita tidak bisa berhenti memikirkan penampilannya dari cacat sedikitpun.

"Ada wanita yang rewel, tiap lima jam hanya untuk dandan. Bolak-balik untuk mengecek penampilannya seperti apa," katanya.

"Kemudian riasan wajahnya makin lama makin tebal. Biasanya ada karakteristik dari penderita BDD ini, kadang-kadang jadi sesuatu hal obsesi. Apa pun yang diinginkan, karena ingin menutupi kekurangannya tadi. Seperti ada adiksinya. Seperti ketagihan," Ajeng menjelaskan.

Kalaupun harus melakukan bedah kecantikan, Ajeng menyarankan agar lebih teliti. Memilih dokter kecantikan yang memiliki izin praktik, profesional, dan terdaftar dalam organisasi kedokteran. Selain itu, jika penderita BDD, harus selalu diingatkan agar tidak melakukannya secara berlebihan.

"Bukan hanya dari sisi medis, tapi secara psikis, ketika melakukan bedah plastik maupun tidak, tentunya ada sisi psikologisnya," kata Ajeng.

Sementara itu, dokter Deby Vinski, tak memungkiri banyak penderita BDD. Dia mengaku sering mendapati pasien seperti itu, merasa tidak puas dengan hasil bedah kecantikan, dan ingin terus melakukannya.

"Tapi, jangan coba-coba sama dokter Deby. Ada banyak (penderita BDD). Saya selalu katakan, ini sudah cantik, ini sudah bagus. Itu menjadi tugas dokter untuk mengatakan bahwa ini sudah cukup," ujar Deby.



Ujungnya menyesal

Kasus bedah kecantikan berujung penyesalan pernah dialami figur publik Mpok Atiek. Siapa yang tak kenal komedian "nyablak" ini. Tapi, di balik nama besarnya, di dalam hidup Mpok Atiek justru ada penyesalan. Dia menyesal telah memasang silikon dalam tubuhnya.

Mpok Atiek masih ingat betul jalan pintas yang dilakukan demi mendapatkan wajah cantik. Memasang silikon. Mpok Atiek mengatakan awal mula pasang silikon karena diajak temannya.

Saat itu, Mpok Atiek memilih menyuntikkan silikon di hidungnya. Merasa puas dengan hasilnya, komedian yang terkenal latah ini menjadi keranjingan.

Mpok Atiek lantas memasang silikon pada pipi, bibir, dan beberapa bagian wajah lainnya. Dengan wajah barunya membuat Mpok Atiek menjadi lebih percaya diri.

"Saat itu, bahagia banget deh. Hidung mancung, wajah kencang dan bersinar. Keren deh," ujar Mpok Atiek.

Seiring berjalannya waktu, Mpok Atiek mulai merasa tidak nyaman. Ia melihat wajahnya bengkak dan terlihat aneh. Mpok Atiek sangat terganggu dengan penampilannya. Wajahnya jadi bengkak dan merah.

"Pas 15 tahun, muka udah kelihatan aneh. Berat buka mata. Kalau nggak diangkat belang dan malu," ujar Mpok Atiek.

Mpok Atiek mengaku menyesal. Apalagi waktu itu, dia bukan ditangani oleh dokter bedah ahli.

"Malah langsung suntik. Pertama hidung, nggak pakai bius lokal, terus pakai kain kasa, dijepit pakai kayak jepitan jemuran. Habis itu bibir dan sudah suntik semua," kata Mpok Atiek.

Setelah 23 tahun silikon bersarang di wajah, Mpok Atiek memutuskan untuk mengangkatnya pada 2013. Awalnya ia takut saat harus melepas silikon tersebut. Apalagi, untuk itu, Mpok Atiek harus menjalani 16 kali operasi.

"Udah amburadul, harus diangkat. Nggak berani sebenarnya, tapi dibilang bisa kanker, ya harus berani," kata Mpok Atiek. (art)