Mempertanyakan Kesungguhan Dunia Arab Perangi ISIS

Militan ISIS
Sumber :
  • REUTERS

VIVA.co.id - Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok ekstremis Daulah Islamiyah Irak dan al-Syam (ISIS) menjadi momok bagi masyarakat internasional. Negara-negara Arab, AS, Perancis, Jerman dan Turki kerap dibuat jengkel dengan tindakan ISIS yang menteror, menculik, dan bahkan membunuh.

Ancaman kelompok ini kian meningkat kendati kampanye militer terus dilakukan di negara asalnya, Irak dan Suriah. Sejumlah serangan teror, seperti di Paris November 2015 dan di Jakarta Januari 2016, diduga dilakukan para simpatisan ISIS.

Tidak heran bila Direktur Intelijen Amerika Serikat, James Clapper, memperingatkan bahwa jangkauan serangan ISIS sudah meluas. ISIS tampak jelas sudah menggantikan peran kelompok al-Qaeda sebagai musuh utama dunia.

"Kelompok ISIS memiliki kemampuan meningkat untuk mengarahkan dan meningkatkan serangan ke target-target lebih luas di seluruh dunia," kata Clapper, seperti dikutip stasiun berita CNN.

Bahkan, Letnan Jenderal Vincent R. Stewart, Direktur Dinas Intelijen Pertahanan AS, mengeluarkan pernyataan mengejutkan bahwa ISIS berupaya menyerang Amerika Serikat tahun ini. “Mereka kemungkinan akan berupaya melancarkan serangan lagi di Eropa, dan berusaha mengarahkan serangan ke Amerika Serikat tahun 2016," ujarnya.

Beragam Modus

Tak hanya itu. Stewart melanjutkan ISIS mengambil keuntungan dari arus pengungsi untuk melakukan operasi teror. Mereka juga pandai dalam memanipulasi paspor sehingga bisa bebas bepergian ke mana saja sebagai pelancong legal.

Para pejuang ISIS dilaporkan telah merebut fasilitas paspor Suriah dengan mesin yang mampu membuat paspor. Stewart memperkirakan, para ekstremis masih aktif di 40 negara, dan saat ini lebih banyak teroris yang berlindung di tempat yang aman.

“ISIS dan delapan cabangnya merupakan ancaman teroris paling utama. Mereka berlindung di balik pengungsi yang melakukan eksodus dari Irak dan Suriah untuk menjangkau negara-negara lain,” ungkapnya.

Mengutip situs CNN, lebih dari 38.200 pejuang asing dari 100 negara, termasuk sedikitnya 6.900 dari negara-negara Barat, pergi ke Suriah sejak 2012. Soal kampanye kontra-ISIS di Irak dan Suriah, kata Stewart, tidak mungkin bisa membebaskan kota Mosul di Irak pada 2016 ini.

Kendati demikian, Presiden AS Barack Obama menolak mengirimkan pasukan daratnya ke medan perang saudara Suriah mengingat pengalaman AS di Irak dan Afghanistan. Namun, tahun lalu, keputusannya sedikit longgar dan merestui mengirim 50 personel AS untuk melakukan operasi khusus.

Aliansi Minus Suriah

Lantas, bagaimana dengan Sekutu AS? Perancis dan Turki sudah lebih dahulu mendeklarasikan perang lawan ISIS. Kedua negara itu akhirnya terjun ke pertempuran lantaran mengalami kejadian teror bom bunuh diri.

Disusul Jerman yang mengirim tentaranya sebanyak 1.200 personel pada Desember lalu ke Suriah dan memberikan enam jet Tornado pengintaian dan kapal fregat untuk melindungi kapal induk Perancis, Charles de Gaulle.

Dilansir dari situs Russia Today, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Ashton Carter mengirimkan surat kepada Menteri Pertahanan Jerman, Ursula von der Leyen, yang isinya Washington kini tengah mencari sumbangan militer lebih besar dari Berlin untuk melawan ISIS.

Sementara itu, Kanselir Jerman, Angela Merkel menekankan jika kontingen Jerman tidak akan bekerja dengan pasukan pemerintah Suriah di sana. "Aliansi internasional terhadap ISIS tidak termasuk Assad dan pasukannya," kata dia.

Menurut Markel, Berlin tidak bisa hanya duduk berpangku tangan melihat tindakan brutal ISIS yang dinilai terus melakukan tindakan tak manusiawi. "Mereka (ISIS) membangun teror di bagian Irak dan Suriah, dan ini merupakan ancaman langsung untuk semua Eropa," tuturnya.

Merkel juga memuji kontribusi Jerman dalam membantu perang melawan ISIS di Irak, di mana Jerman saat ini menyediakan senjata dan pelatihan bagi para pejuang Kurdi. AS juga tidak melupakan sekutu yang lain, negara-negara Arab.

Peran Arab Saudi

Ya, di bawah komando Arab Saudi, sebanyak 34 negara muslim antara lain terdiri atas Qatar, Uni Emirat Arab, Pakistan dan Turki, kecuali Iran dan Suriah, siap memerangi ISIS.

Namun, berita terbaru, seperti dikutip dari situs Reuters, menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir, justru menunda sementara pengiriman pasukan khusus Arab Saudi ke Suriah karena beberapa hal.

“Ada diskusi berkaitan dengan kontingen pasukan kami yang akan beroperasi di Suriah di bawah pimpinan AS. Kerajaan Arab Saudi telah menyatakan kesiapannya untuk menyediakan pasukan khusus dalam operasi ini,” kata al-Jubeir.

Ia berbicara kepada wartawan setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry selama dua hari. Akan tetapi, al-Jubeir menolak mengatakan berapa banyak tentara Arab Saudi mungkin siap untuk mengirim.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, John Kirby, mengungkapkan jika pihaknya menyambut positif dukungan sekutunya itu. Tapi, ia tidak memberitahukan kapan pasukan Arab Saudi mulai dikirim dan tiba di Suriah.

Sudah hampir lima tahun perang sipil Suriah berlangsung. Setidaknya 250 ribu orang tewas dan lebih dari 10 juta orang telah meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke negara-negara yang dianggap aman.

Tentara Suriah maju ke arah perbatasan Turki, pada Senin kemarin, dalam serangan sporadis yang didukung Rusia dan Iran. Pihak pemberontak antipemerintah mengatakan, serangan ini jelas mengancam masa depan Suriah dan makin memperkuat posisi Presiden Bashar al-Assad. (ren)