Menyoal Taksi 'Hitam' Uber dan Grab yang Membelah Arus
- ANTARA FOTO/Yossy Widya
Fenomena terlanjur puas itu pun merebak dan menguat di kalangan netizen. Mereka pun merisak balik angkutan resmi seperti .
Prinsip secara keseluruhan sederhana sekali, yakni tarif yang murah. Sebabnya, taksi meski memiliki argometer sebagai bentuk transparansi tarif ternyata belum memuaskan.
Lihat saja angka ini sebagai perbandingan. Layanan standar Uber misalnya, dengan menggunakan jenis kendaraan Toyota Avanza, Uber hanya mematok tarif Rp3.000 per buka pintu, per kilometer sebesar Rp2000 dan waktu tunggu Rp300 per menit. Jelas jauh lebih murah dibanding taksi di mata penggunanya.
Apapun itu, layanan transportasi memang sudah beragam saat ini. Namun tetap, apapun bentuknya, mau berbasis aplikasi atau pun tidak, status hukum layanan harus tetap menjadi nomor satu. Jangan sampai, karena kemajuan teknlogi lantas membelah arus dan mengabaikan ketentuan yang mengatur di sebuah negara. (umi)