Mobil Esemka Diproduksi Massal
- VIVA.co.id/Fajar Shodiq
"Proton itu komponennya itu juga gado-gado, jadi harus dipertanyakan bagaimana kerjasamanya," tegasnya.
Baca juga:
Siapa yang beli Esemka?
Persaingan penjualan otomotif di Indonesia sangatlah ketat. terlebih lagi produsen otomotif raksasa asal Jepang telah menguasai pasar dalam negeri. Bagaimana peluang Esemka?
Menjawab hal tersebut Hosea Sanjaya mengaku yakin mobil karya anak bangsa tersebut mampu bersaing dengan produsen otomotif Jepang dan Eropa yang telah lebih dahulu eksis di Tanah Air. Sebab varian yang pertama akan di luncurkan Agustus mendatang adalah jenis pikap.
"Salah satu persyaratan itu harga, sehingga kita dapat bersaing. Rasa-rasa lebih dari pada yakin (Bersaing dengan produk lain). Kita melihat berdasarkan tuntutan dan pilihan konsumen," kata Hosea
Selain itu menurutnya, Esemka tidak terikat dengan memproduksi sesuatu produk yang sudah 'terkunci' atau tak bisa diubah.
"Kami juga belajar dari yang sudah ada. Semua pengaturan kita itu berhubungan dengan original equipment manufacturing (OEM), berhubungan langsung dengan hal-hal yang original dan pabrikan. Jadi tidak ada istilah sekadar tempel satu merek saja," ujar Hosea.
Baca juga:
Sedianya, mobil pikap ini akan menyasar kalangan pedesaan. Peluang untuk menjadikan kendaraan perdesaan ini sebagai kendaraan yang diminati, diakui Hosea cukup besar, hal itu dikarenakan pikap yang ada saat ini memiliki kisaran harga sekira Rp130 juta.
"Produk-produk pikap kecil yang diproduksi di Indonesia itu 1.500cc, harga yang ditawarkan Rp130 jutaan. Di atas 1.500cc itu impor dari Thailand, jadi otomatis peluang sangat besar di situ. Harga yang kita tawarkan harus di bawah Rp100 juta," kata Hosea.
Meski demikian, Bebin berpendapat, memasarkan merekan baru di pasar dalam negeri bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi konsumen Indonesia memiliki fenomena yang unik dalam memilih mobil yang akan dibeli.
"Di Indonesia (Konsumen) itu menganut filsafat sejuta umat, mobil yang banyak di pasar mereka mau beli, supaya gampang jualnya dan gampang dapat part-nya, memulai merek baru tidak mudah," ungkapnya.
Terlebih lagi kata dia, biaya pemasaran mobil baru tidaklah murah di pasar dalam negeri. Investasinya tinggi, dan belum tentu ada distributor nasional yang berminat untuk memasarkan.