Kala Turki 'Intervensi' Sekolah RI

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.
Sumber :
  • REUTERS/Kayhan Ozer/Presidential Press Office/Handout via Reuters

VIVA.co.id - Pemerintah Turki terus memberangus semua jaringan yang dianggap terkait dengan Fethullah Gulen. Bahkan, Kedutaan Besar Turki di Indonesia mengeluarkan rilis meminta pemerintah Indonesia menutup sembilan sekolah yang dianggap memiliki kaitan dengan jaringan yang mereka sebut Feto (Fethullah Terorism Organization).

Pemerintah Turki menganggap ulama moderat Turki Fethullah Gulen berada di balik kudeta militer yang dilakukan pada 15-16 Juli 2016. Kudeta tersebut gagal. Puluhan ribu rakyat Turki turun ke jalan dan ganti menghantam militer. Hanya dalam waktu 24 jam pemerintahan Turki kembali ke tangan Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Dalam keterangannya, Kedubes Turki menyebutkan, beberapa sumber menunjukkan fakta bahwa Gulen dan organisasinya mulai memasukkan anggota mereka di sejumlah posisi di pemerintah sejak bertahun-tahun lalu. Dan itu sudah dilakukan sejak mereka mulai merencanakan kudeta.

Melalui pers rilis yang diterbitkan pada Jumat, 29 Juli 2016, Kedubes Turki mengatakan, semakin banyak tersangka yang mengakui keterlibatan mereka dalam organisasi teroris tersebut, juga mengakui upaya kudeta.

Di negaranya, Erdogan menangkap, memeriksa, menahan, hingga memecat lebih dari 60.000 orang dari berbagai profesi. Mulai dari militer, guru, ulama, hakim, pegawai negeri sipil, hingga dokter dan perawat.

Pemerintah Turki juga menutup lebih dari 1.000 sekolah, kampus, badan amal, dan semua lembaga yang dianggap memiliki jaringan dengan kelompok teroris Feto. Di Indonesia, pemerintah Turki melalui pernyataan resmi kedubesnya menyebut sembilan sekolah yang dianggap terkait dengan kelompok teroris Feto.

Mereka meminta bantuan pemerintah Indonesia untuk menutup sembilan sekolah tersebut, yaitu satu sekolah di Depok dan Bandung, Jawa Barat. Satu sekolah di Tangerang Selatan, Banten.

Selain itu, satu sekolah di Semarang, satu sekolah di Yogyakarta, satu sekolah di Sragen, satu sekolah di Kalimantan Selatan, serta dua sekolah di Aceh.

Menanggapi rilis tersebut, salah satu sekolah di Bandung yang disebut oleh Pemerintah Turki tersebut memprotesnya. Kepala sekolahnya, AF, menyatakan bahwa lembaga pendidikan yang ia pimpin merasa difitnah dan disudutkan oleh pemerintah Turki.

"Ini menyudutkan kami. Padahal yang kami lakukan selama ini tidak ada hubungan dengan teroris. Di sini, pembinaan dijalankan kepada siswa yaitu akademis, akhlak, dan nasionalisme," ujar AF di Bandung, Jumat, 29 Juli 2016.