Merintang Terorisme di Dunia Maya
- telecomcanadaen.wordpress.com
WallStreet Journal melaporkan jika Google dan Twitter sempat bekerja sama untuk mensponsori tiga bentuk uji coba untuk menghalau propaganda. Uji coba itu menggunakan platform video yang akan disebar di situs kedua perusahaan. Video itu akan berisi imbauan untuk menghindari propaganda teroris. Twitter mengatakan jika proyek ini telah dikerjakan sejak 2013.
Secara mandiri langkah yang sedang dilakukan Google, yakni dengan cara mengarahkan pengguna mesin pencariannya yang terindikasi mencari hal-hal yang berkaitan dengan terorisme dan kekerasan. Ada juga program anti-ekstremis yang muncul dalam bentuk iklan di mesin pencarian Google. Bahkan Google mengatakan juga telah bekerja sama dengan NGO untuk membuat kampanye melawan radikalisasi dan terorisme di mesin pencariannya. NGO itu diberi kekuasaan untuk mendesain iklan guna menggugah psikologi para calon anggota teroris.
Lain halnya dengan Twitter yang memilih untuk memblokir akun-akun terduga teroris. Program pencarian akun terduga teroris ini telah dilakukan sejak pertengahan 2015 lalu. Sampai saat ini Twitter mengklaim telah memblokir 360.000 akun Twitter yang diduga digunakan oleh anggota teroris untuk menyebar propaganda dan kebencian. Dilaporkan, pemblokiran yang dilakukan Twitter setiap hari, yang terkait terorisme, meningkat 80 persen sejak tahun lalu. Hasilnya, platform itu pun memperketat syarat dan ketentuan penggunaan bagi para anggotanya.
Selain itu, Twitter juga memperluas cakupan laporan penyalahgunaan penggunaan platform tersebut. Ini membuat pemblokiran akun bisa dilakukan dengan cepat, dan menyulitkan pengguna yang telah diblokir untuk kembali. Di sisi lain, Twitter juga memperkenalkan fitur baru yang memberikan kekuasaan kepada pengguna untuk mengontrol interaksi mereka di layanan ini. Fitur ini termasuk filterisasi cuitan.
"Dunia telah menyaksikan banyaknya serangan teror yang mematikan dan sadis di seluruh dunia. Kami sangat mengutuk aksi tersebut dan berkomitmen penuh untuk menghilangkan segala bentuk promosi kekerasan dan terorisme di dalam platform ini," ujar pihak Twitter dalam pernyataannya, seperti dikutip dari NY Times.
Sedangkan Facebook mengaku telah mempekerjakan pihak ketiga untuk menyortir konten, baik postingan status maupun fan page, untuk kemudian menghapusnya. Pihak ketiga itu juga dipekerjaka untuk memonitor jika ada konten-konten lain yang bermunculan dan menandakan propaganda, terorisme dan kebencian.