Kepada Jokowi, Duterte Minta Maaf Soal Abu Sayyaf

Suasana santai perbincangan Jokowi dan Duterte di Istana Negara, Jakarta.
Sumber :
  • Reuters/Darren Whiteside

VIVA.co.id – Tanpa menunggu jeda setelah pertemuan antar kepala pemerintahan se-ASEAN di Vientianne, Laos, yang baru saja dilaksanakan tanggal 6-8 September 2016, Presiden Duterte langsung memenuhi jadwal kunjungannya ke Jakarta.  

Berkemeja putih digulung sebatas lengan, Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengikuti sejawatnya, Presiden RI Joko Widodo berkeliling pasar Tanah Abang, pada Jumat siang, 9 September 2016. Di sana, Jokowi mengajak Duterte menemui beberapa pedagang, meminta Duterte memegang langsung tekstil buatan Indonesia dan menceritakan detail dan kualitas tekstil tersebut. Sesekali Duterte mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Jokowi.

Hanya kurang lebih satu jam kedua pemimpin negara itu berada di dalam pasar yang mendadak jadi padat pengunjung. Setelah itu, Jokowi bertolak ke Istana Negara. Duterte datang menyusul. Keduanya akan duduk bersama untuk perbincangan bilateral dan makan malam kenegaraan. Dengan busana resmi, keduanya bertemu dan membahas berbagai hal yang terkait langsung dengan hubungan dua negara.

Namun tak seperti berita yang ditulis oleh Inquirer pada Kamis, 8 September 2016, ternyata pembicaraan soal Mary Jane, warga Filipina yang dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah Indonesia karena kasus narkoba, ternyata tak masuk agenda. Sebelumnya, media Filipina itu mengabarkan, Duterte datang ke Jakarta untuk meminta maaf soal Mary Jane.

"Saya berharap bisa mengajukan banding 'dengan cara yang paling hormat dan sopan' kepada Presiden Widodo untuk kelangsungan hidup Veloso. Tetapi jika Presiden menolaknya, saya tetap berterima kasih bahwa dia (Mary Jane) selama ini telah diperlakukan dengan baik," kata Duterte, seperti dikutip situs Inquirer, Kamis, 8 September 2016.

Sejak Duterte datang tak ada tanda-tanda Presiden Filipina itu akan menemui Mary Jane, seorang warga Filipina yang saat ini masih berada di Lembaga Pemasyarakatan Wirogunan Yogyakarta. Mary Jane dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah Indonesia karena terbukti membawa sabu-sabu seberat 2,6 kilogram. Ia tertangkap pada tahun 2010 di Bandar Udara Adisutjipto Yogyakarta.

Pelaksanaan hukuman mati Mary Jane masih tertunda karena Pemerintah RI meminta penyelidikan lebih lanjut karena Mary Jane ternyata hanya kurir. Ada kemungkinan ia diperalat oleh orang yang memintanya membawa narkoba. Duterte dikabarkan membawa misi khusus soal Mary Jane untuk dibicarakan dengan Jokowi.

Sejak awal memimpin Filipina dua bulan lalu, Duterte sudah mengatakan, ia tak akan memberi ampun pada pengedar dan pengguna narkoba. Terbukti, hanya dua bulan menjabat, sudah nyaris 3.000 pengedar dan pengguna narkoba meregang nyawa di jalan-jalan umum di Filipina. Itu sebabnya, jika jadi, pertemuan Duterte dengan Mary Jane menjadi pertemuan yang paling ditunggu-tunggu, termasuk jika ia membicarakan Mary Jane dengan Jokowi.

Namun, ternyata dua pemimpin negara tak membahas soal Mary Jane. Saat dikonfirmasi, Yasonna H. Laoly Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia memastikan Duterte dan Jokowi tak menyebut nama Mary Jane dalam pembicaraan mereka. "Bilateral tak menyebut soal itu. Totally nothing. Dan tak ada request apa-apa," ujarnya kepada VIVA.co.id, Jumat, 9 September 2016.

Bicara Abu Sayyaf

Meski tak membicarakan Mary Jane, namun kedua presiden ternyata membicarakan hal lain yang juga penting. Kepala Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden RI Bey Machmudin, mengatakan kedua presiden membicarakan soal kuota haji dan penyanderaan yang dilakukan oleh kelompok militan Abu Sayyaf.

Melalui siaran persnya, ia menyampaikan, Duterte meminta maaf karena sering terjadinya penyanderaan awak kapal Indonesia di perairan Filipina. Apalagi Filipina sangat mengandalkan batubara dari Indonesia yang dikirim melalui kapal-kapal tersebut. "Saya sangat menyesal, Pak Presiden, bahwa kadang-kadang pengiriman batubara yang dibutuhkan oleh pembangkit listrik di negara saya terhambat karena pembajakan," ujar Duterte seperti tertulis dalam rilis yang diterima oleh VIVA.co.id, Jumat, 9 September 2016.

Kedua presiden juga membahas soal terorisme dan ekstremisme. Dan meski tak secara khusus membicarakan Mary Jane, namun pembicaraan soal pemberantasan narkoba juga disertakan. "Kami sepakat untuk bekerjasama untuk mencegah, menangkap, dan mengadili para pelaku teror di lingkungan kita. Kami juga berbagi keresahan yang sama soal penyebaran obat-obatan terlarang, dan dampaknya bagi masyarakat kita," ujar Duterte, menambahkan.

Filipina terkenal dengan kelompok militan Abu Sayyaf yang sering melakukan penculikan dan penyanderaan. Hingga saat ini masih sembilan WNI yang berada dalam penyanderaan kelompok tersebut. Awal September, Duterte terpaksa membatalkan rencana kunjungannya ke Brunei Darussalam. Ia memutuskan tetap tinggal di Davao setelah bom meledak tepat saat ia mengunjungi kota kelahirannya itu. Ledakan itu menewaskan 14 orang dan melukai 71 lainnya. Kelompok Abu Sayyaf mengaku bertanggungjawab atas ledakan tersebut.

Kemarahan Duterte bahkan membuatnya begitu geram sehingga ingin memakan mereka. "Jika saya harus menghadapi mereka, Anda tahu saya bisa makan manusia. Saya akan menyobek tubuh Anda. Berikan saya cuka dan garam, maka saya akan memakan Anda," ujar Duterte seperti dikutip dari Inquirer, 7 September 2016.

Duterte sangat marah, apalagi seminggu sebelumnya, 12 anggota militer Filipina tewas dalam operasi penuntasan kelompok tersebut. "Silakan maju, ledakkan bom. Akan tiba waktunya ketika saya memakan Anda di hadapan orang-orang. Saya akan melahap Anda," ucapnya.

Melihat kerasnya sikap Duterte pada kelompok militan, kriminalitas, dan narkoba, mungkin dua pemimpin ini bisa saling berbagi dan bersinergi untuk membantu mewujudkan ASEAN yang damai. Bagi Indonesia, mungkin keberanian Duterte bisa menjadi harapan baru agar penculikan dan penyanderaan pada awak kapal asal Indonesia bisa berhenti dan Laut Filipina kembali aman dilintasi.