Kepungan Bencana di Tahun 2016

Foto Udara Kondisi Banjir Bandang di Garut
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

VIVA.co.id – Berbagai peristiwa bencana alam terus mendera Tanah Air hingga penghujung tahun 2016 ini. Bencana yang datang mulai dari banjir bandang, tanah longsor, gempa bumi, puting beliung, hingga erupsi gunung berapi, seolah silih berganti melanda sejumlah wilayah di Indonesia.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai menyebut tahun 2016 ini sebagai tahun bencana. 'Julukan' itu didasarkan pada jumlah bencana yang terjadi sepanjang tahun ini sebanyak 2.342 bencana. Meningkat drastis dari tahun 2015 yang tercatat sebanyak 1.732 bencana, atau naik 35 persen.

Bahkan, data BNPB menyebutkan bahwa tahun 2016 mencetak rekor tertinggi jumlah kejadian bencana yang terjadi kurun waktu 10 tahun terakhir. Begitu juga dengan dampak kerugian ekonomi yang ditimbulkan, tahun 2016 ini mencapai Rp4.96 triliun.

Sebagai pembanding, jumlah kejadian bencana selama 10 tahun terakhir adalah tahun 2007 (816 bencana), 2008 (1.073 bencana), 2009 (1.246 bencana), 2010 (1.941 bencana), 2011 (1.633 bencana), 2012 (1.811 bencana), 2013 (1.674 bencana), 2014 (1.967 bencana), dan 2015 (1.732 bencana).

Kepala Pusat Data dan Infromasi BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan bencana alam yang terjadi sepanjang tahun 2016 ini didominasi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor dan puting beliung. Selain itu, bencana geologi seperti gempa bumi, erupsi gunung berapi, dan bencana ekologi seperti kebakaran hutan masih menjadi ancaman serius.

BNPB mencatat bencana banjir di tahun 2016 sebanyak 766 bencana; tanah longsor sebanyak 611 bencana; banjir dan longsor sebanyak 74 bencana; puting beliung sebanyak 669 bencana; gempa bumi terjadi 5.578 kali, atau rata-rata 460 gempa setiap bulan dan 12 gempa diantaranya merusak.

"Kebakaran hutan dan lahan selama 2016 dapat dikendalikan dengan baik. Pencegahan yang dilakukan serius oleh pemerintah dan pemda telah menyebabkan jumlah hotspot menurun 80 persen dibandingkan tahun 2015. Tidak ada daerah di Sumatera dan Kalimantan yang tertutup asap pekat seperti halnya tahun 2015," kata Sutopo dalam rilis akhir tahun BNPB, Kamis, 29 Desember 2016.

Tingginya bencana banjir yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia pada tahun ini disebabkan tidak adanya musim kemarau sepanjang tahun 2016. "Yang ada adalah kemarau basah. Hal inilah yang menyebabkan banjir, longsor dan puting beliung meningkat," ujarnya.

Buktinya, peristiwa banjir bandang terjadi hampir sepanjang tahun ini. Diawali peristiwa banjir yang menerjang Pangkal Pinang dan Sampang, Madura, pada Februari 2016. Ribuan rumah terendam dan puluhan ribu jiwa terdampak terpaksa harus mengungsi.

Di pertengahan tahun, banjir hebat juga terjadi di Kota Bekasi pada 21 April 2016. Kemudian pada Juli 2016, giliran Pandeglang diterjang banjir bandang yang membuat 988 jiwa terdampak.

Pada September 2016, Kabupaten Garut diterjang banjir bandang hebat yang menyebabkan 34 orang meninggal dunia, 35 luka-luka dan 6.361 orang mengungsi. Selanjutnya, 10 Oktober, giliran Kabupaten Pangandaran diterjang banjir.

Di penghujung tahun 2016, tepatnya 21 Desember 2016, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, diterjang banjir bandang. Tercatat 105.754 jiwa terdampak dan puluhan ribu rumah rusak. Dampak ekonomi yang ditimbulkan dari bencana banjir di Bima ditaksir mencapai Rp1 triliun lebih.

Mitigasi Bencana

Di luar bencana banjir, gempa bumi berkekuatan 6,5 skala richter yang mengguncang tiga kabupaten di Nanggroe Aceh Darussalam, yakni Pidie Jaya, Bireun dan Pidie, pada 7 Desember 2016, menjadi duka mendalam di penghujung tahun.

Data BNPB menyebutkan 104 orang dilaporkan meninggal dunia akibat gempa Aceh, 267 orang luka berat, 127 luka ringan dan 91,267 orang mengungsi. Gempa ini juga merusak ribuan rumah dengan 2.357 rusak berat, 5.291 rusak sedang dan 11.832 rusak ringan. Kerugian materil dari gempa Aceh ditaksir lebih dari Rp3,5 triliun.

Untuk mencegah terjadinya bencana, berbagai upaya dilakukan pemerintah. Mulai dari pra bencana, tanggap darurat maupun pasca bencana. Tahapan pra bencana meliputi kegiatan yang dilakukan berupa pencegahan, kesiapsiagaan, peningkatan kapasitas, dan sosialisasi wilayah rawan bencana.

"Kegiatan pra bencana menjadi lebih prioritas, baik yang langsung menyentuh masyarakat maupun melalui jalur kelembangaan," ujar Sutopo.

Kesiapsiagaan dan peningkatan kapasitas lanjut Sutopo, termasuk penguatan BPBD, Pemda, relawan dan masyarakat dalam menghadapi bencana. Disamping itu, penguatan manajemen logistik dan peralatan di daerah rawan bencana, serta mengembangkan desa tangguh bencana.

"Secara umum tingkat kesiapsiagaan masyarakat Indonesia dalam menghadapi bencana terus meningkat dibandingkan sebelumnya. Pengetahuan bencana meningkat signifikan. Tapi pengetahuan ini belum meningkat menjadi sikap dan perilaku," imbuhnya.

Dari aspek tanggap darurat, BNPB melakukan penanganan darurat bencana secara cepat dan tepat, serta melakukan kajian cepat terkait bencana. Kemudian, melalui pusat pengendalian operasi, BNPB memantau bencana yang terjadi di seluruh Indonesia, untuk memetakan potensi bencana berikutnya dan proses evakuasi.

"Kemudian, BNPB fokus pada pembangunan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana di banyak daerah," terang Sutopo.

Sutopo menambahkan, dengan tingginya potensi bencana di Indonesia, BNPB berharap peningkatan anggaran untuk penanggulangan bencana. Dengan dukungan dana Rp4 triliun saat ini, BNPB merasa masih perlu ditingkatkan sebagai antisipasi dari kemungkinan bencana yang terjadi. "Karena ancaman bencana dan dampak bencana makin meningkat," imbuhnya.

Prediksi Bencana 2017

Di tahun 2017, BNPB memprediksi sejumlah bencana akan masih terus terjadi. Meski demikian, BNPB tidak bisa memprediksi besar dan kecilnya bencana yang akan terjadi tersebut. Sebab, besar kecilnya bencana yang ditimbulkan tergantung dari besaran atau magnitude penyebab bencana.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), tahun 2017 diprediksi musim normal. Tidak ada penguatan El Nino (yang menyebabkan curah hujan menurun sehingga menimbulkan kekeringan) dan tidak ada fenomena penguatan La Nina (yang menyebabkan curah hujan meningkat).

"Selama Januari, Februari dan Maret 2017 diprediksi curah hujan normal, bahkan di beberapa tempat kondisinya di bawah normal sehingga ancaman banjir,longsor dan puting beliung akan berkurang," terang Sutopo.

Kendati begitu, bencana hidrometerologi (banjir, longsor dan puting beliung) diprediksi masih akan mendominasi bencana selama 2017. BMKG memperkirakan puncak bencana hidrometeorologi terjadi pada Januari-Februari 2017.

Yang menjadi kekhawatiran pemerintah, jutaan masyarakat Indonesia masih terpapar dari ancaman bencana. Alasannya, masyarakat itu tinggal di daerah-daerah yang rawan bencana. "Ini salah satu dampak dari kemampuan mitigasi, baik struktural dan non struktural kita yang masih terbatas," kata Sutopo.

Misalnya, gempa bumi masih mengancam 368 kabupaten/kota se-Indonesia dengan 148,4 juta jiwa. Tsunami mengancam 3,8 juta jiwa di 233 kabupaten/kota. Erupsi gunung api mengancam 75 kabupaten/kota dengan 1,2 juta jiwa.

Banjir mengancam 315 kabupaten/kota dengan 63,7 juta jiwa. Longsor masih akan mengancam 274 kabupaten/kota dengan 40,9 juta jiwa. Gelombang tinggi dan abrasi mengancam 11,1 juta jiwa.

Untuk gempa bumi, diprediksi masih akan terjadi selama 2017. Dengan rata-rata setiap bulan ada sekitar 450-500 kejadian gempa di Indonesia. Karena itu, perlu diwaspadai gempa-gempa di Indonesia bagian timur yang kondisi seismisitas dan geologinya lebih rumit dan kerentanannya lebih tinggi.

"Gempa bumi tidak dapat diprediksikan secara pasti dimana, berapa besar dan kapan. Namun diprediksikan gempa terjadi di daerah di Indonesia khususnya di jalur subduksi di laut dan jalur sesar di darat," kata dia.

Ia menambahkan, potensi tsunami juga masih bisa terjadi, meskipun sangat tergantung dari besaran gempa bumi dan lokasinya. Dalam artian, jika gempa lebih dari 7 skala richter, dengan kedalaman kurang dari 20 kilometer dan berada di jalur subduksi maka potensi tsunami bisa terjadi. "Tapi kan sistem peringatan dini tsunami sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya," ujar Sutopo.

Tawaran Jepang

Disadari, Indonesia berada di jalur Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik membuatnya kerap mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi. Hal tersebut menjadi fokus pemerintah Indonesia, bagaimana caranya agar Indonesia sigap dalam mencegah terjadinya kerusakan fatal akibat bencana alam.

Dalam sambutan simposium Hari Tsunami Dunia (World Tsunami Awarness Day 2016), anggota Parlemen Majelis Rendah Jepang, Fukui Teru, menyatakan Indonesia dan Jepang dinilai memiliki kemiripan tipe bencana alam, yaitu kerap terjadi gempa, gunung api meletus, dan beberapa kali tsunami.

Untuk itu, diperlukan adanya kesiagaan dari pemerintah dan masyarakatnya dalam mengantisipasi datangnya bencana itu.

"Kita harus bisa memberlakukan kebersamaan, teknologi, dan kerja sama dalam menghadapi ancaman tsunami," ujarnya di hadapan peserta simposium, Kamis, 15 Desember 2016 di Jakarta.

"Kita harus lebih waspada. Jepang ingin membantu Indonesia dalam pencegahan itu, karena kami melihat Indonesia sangat rentan gempa dan tsunami. Maka dari itu, saya ingin berbagi di sini, menyakurkan bantuan dan kerja sama, bagaimana bencana itu bisa kami antisipasi," lanjutnya.

Pengalaman menghadapi dahsyatnya bencana dan kesadaran akan ancaman gempa, membuat pemerintah dan masyarakat negeri matahari terbit itu melakukan persiapan matang untuk menghadapinya. Hampir setiap hari, kata Fukui, Jepang diguncang gempa mulai dari skala sangat rendah hingga skala tertinggi, terakhir adalah gempa Fukushima.

Sedangkan di tiap tahunnya, negeri bunga sakura ini dihantam badai topan. Meski memiliki lebih dari 100 gunung berapi, Jepang terus mengembangkan teknologinya untuk mempersiapkan datangnya bencana.

"Kami terus berupaya mengembangkan teknologi di negara kami agar saat gempa atau tsunami terjadi, kerusakan yang ditimbulkan kecil. Kewaspadaan dan kesiagaan masyarakat juga kami tingkatkan dengan memberi pelatihan serius dan simulasi rutin," papar Fukui yang juga anggota partai LDP Jepang.

"Pemerintah hanya ingin melindungi rakyatnya dari bencana sebagai wujud pertanggungjawaban negara. Selain itu, Indonesia bisa membangun tanggul di sungai-sungai, membangun tembok pelindung banjir, longsor, bahkan tsunami di pinggir pantai seperti yang Jepang lakukan," ucap pria berusia 63 tahun ini.

Fukui juga mengatakan, utamakan perlindungan pada gedung sekolah dan rumah sakit, karena keduanya merupakan fasilitas publik yang vital.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan penanaman kultur antisipasi bencana di Indonesia sangat penting, sehingga saat Indonesia dilanda bencana seperti tsunami dan gempa bumi, masyarakat sudah terdidik dan tau cara mengantisipasinya.

"Awareness ini artinya kesiapan atau kehati-hatian, jadi yang kita harapkan adalah memasyarakatkan persiapan apabila ada bencana. Persiapan diri mendidik," kata JK di tempat dan hari yang sama.