Jalan Tak Aman Biometrik
- Viva.co.id/Amal Nur Ngazis
Perusahaan dan badan teknologi informasi dunia bukan tak peduli. National Telecomunications and Information Administration pada pertengahan tahun lalu mengadakan workshop untuk membahas kode etik pengoperasian teknologi pengenalan wajah. Pertemuan ini melibatkan Google, Microsoft, pakar keamanan dan pendukung keamanan teknologi. Tapi niat baik itu pupus. Sebelum pertemuan selesai, satu per satu peserta memilih keluar dari forum.
Akhirnya peserta menyadari memang tidak mudah untuk mengatur penggunaan fitur pengenalan wajah. Sebagai pengguna teknologi pengenalan wajah, Google mengaku kapok dan memutuskan tak memanfaatkan lagi fitur biometrik tersebut.
"Satu-satunya teknologi yang dibuat Google adalah pengenalan wajah. dan setelah melihat fitur tersebut, kami memutuskan untuk menyudahinya," ujar Kepala Eksekutif Google, Eric Schmidht dalam sebuah artikelnya dikutip Wired.
Microsoft dan Apple mengaku masih mempertimbangkan penggunaan fitur pengenalan wajah untuk mendukung produk dan layanan mereka. Sementara Facebook menunggu peluang pemanfaatan fitur pengenalan wajah. Situs jejaring sosial itu telah menjadi perusahaan yang punya data wajah pengguna terbesar saat ini. Sebab setidaknya, Facebook telah mengantongi lebih dari 350 juta foto yang diunggah tiap harinya.
Dengan menggunakan sistem pengenalan wajahnya, DeepFace, menurut Bedoya, Facebook bisa mengolah datanya menjadi sangat canggih.
Dengan data pengenalan wajah itu, ujar Bedoya, bukan tak mungkin nanti ke depannya perusahaan bisa membaca identitas seseorang hanya dengan mudah. Misalnya saat seseorang berjalan ke diler mobil, maka dengan sensor pengenalan wajah, diler tersebut dengan cepat bisa mengetahui siapa orang tersebut, tempat tinggalnya, pendapatannya, kartu kreditnya.
Tapi untungnya, Facebook sudah sepakat dengan Komisi Perdagangan Federal AS, untuk sebelumnya mendapatkan 'persetujuan' pengguna sebelum memanfaatkan fitur privasi tersebut.
Pembobol Biometrik
Menurut penyelidikan Kaspersky Lab, terhadap kejahatan siber underground, setidaknya sudah ada dua belas penjual menawarkan skimmer yang mampu mencuri sidik jari korban. Dan setidaknya tiga penjual underground sudah meneliti perangkat yang mampu secara ilegal memperoleh data dari urat nadi telapak tangan dan sistem identifikasi iris mata.
Gelombang pertama dari skimmer biometrik diamati melalui ‘presale testing’ pada September 2015. Bukti yang dikumpulkan oleh peneliti Kaspersky Lab mengungkapkan, selama pengujian awal pengembang menemukan beberapa bug.
Namun, masalah utama adalah penggunaan modul GSM untuk transfer data biometrik. Modul tersebut terlalu lambat untuk mentransfer besarnya volume dari data yang diperoleh. Akibatnya, versi terbaru dari skimmer akan menggunakan teknologi transfer data lainnya yang lebih cepat.
Ada juga pembicaraan dalam diskusi yang sedang berlangsung di komunitas underground mengenai pengembangan aplikasi mobile untuk membuat cetakan dari wajah manusia. Dengan aplikasi tersebut, penyerang dapat mengambil foto seseorang yang diposting di media sosial dan menggunakannya untuk mengelabui sistem identifikasi wajah.