Jejak Darah di Barak Taruna
- VIVA.co.id/istimewa
Dari pemeriksaan terungkap, tindakan tega yang dilakukan AMR kepada Krisna, murni bermotif dendam, dan itu ditengarai oleh masalah sepele.
Yakni, telepon seluler milik AMR disita oleh Pamong Graha, lantaran ketahuan saat dipakai oleh Krisna. Tak cuma itu, korban rupanya juga pernah memergoki AMR mencuri.
"Korban mengetahui pelaku mencuri uang milik orang lain di barak, dan korban mengetahuinya," kata Condro.
Atas itu, AMR pun merencanakan kematian Krisna. Indikasi ini diperkuat keterangan saksi, yang sempat melihat AMR sebelum kematian Krisna membeli pisau di Pusat perbelanjaan Armada Town Square (Artos).
Dan, yang lebih mengejutkan lagi, AMR terkesan seperti terlihat tenang. Dari pengakuannya, usai membunuh Krisna, ia mengganti bajunya, dan menyembunyikan pisau, serta mengelap sisa darah korban dengan baju rekannya yang lain. "Pelaku berusaha menghilangkan jejak," kata Condro.
Atas itu, AMR pun disangkakan atas pembunuhan berencana. Remaja berusia 16 tahun ini dijerat dengan Pasal 80 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 340 KUHP.
Selanjutnya, evaluasi pendidikan>>>
Evaluasi pendidikan
Apapun itu, tindak pidana pembunuhan berencana yang terjadi di SMA Taruna Nusantara Magelang ini, kini telah menggores cacat buruk di sekolah itu.
Tindakan AMR yang seolah tenang menggorok leher rekan sebaraknya, menggerus konsentrasi sekolah tersebut. Dan, hal yang paling dikhawatirkan adalah kejadian itu akan berdampak tidak baik kepada taruna lainnya.
"Kepribadian bisa menjadi terpecah dan gangguan psikologi bagi anak-anak lainnya," kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam Sholeh.
Komisioner KPAI Erlinda menambahkan, belajar dari kasus kematian Krisna di Taruna Nusantara ini menyiratkan bahwa ada masalah besar di balik konsep pendidikan karakter yang selama ini dibangun di sekolah.
Sebabnya, fakta menunjukkan, kini anak justru kerap berbuat anarkistis dan seolah mudah merenggut nyawa orang lain. "Anak bangsa sangat mudah terprovokasi dengan hal buruk," katanya.
Di Taruna Nusantara misalnya, sambung Erlinda, sekolah ini sudah lama dikenal sebagai lingkungan pendidikan yang mengedepankan kedisiplinan, pengetahuan, dan karakter. Sehingga sangat aneh, ketika ada seorang tarunannya justru menjadi pembunuh.