Dan, Sang Dokter pun Tumbang

Dokter Stefanus Taofik, SpAn.
Sumber :
  • Linkedin/twitter @blogdokter

Soal penyebab lain meninggalnya dr Stefanus diduga karena penyakit brugada syndrome yang dideritanya, pihak rumah sakit yang dikonfirmasi VIVA.co.id menolak memberikan keterangan dengan alasan bukan kewenangannya..

Brugada syndrome adalah penyakit kelainan genetik pada pembuluh darah di koroner yang berupa gangguan ritme jantung. Penyakit ini  sering menyerang saat tidur hingga menyebabkan kematian.

Pada pasien sindrom Brugada, kelainan pada saluran ini bisa menyebabkan jantung berdetak tidak normal dan di luar kendali dengan ritme yang tidak normal dan berbahaya.

Hal ini bisa menyebabkan pingsan jika terjadi dalam waktu singkat atau kematian jantung mendadak, jika jantung tetap berada dalam ritme yang buruk.

Sindrom Brugada juga bisa terjadi akibat kelainan struktural pada jantung, dan ketidakseimbangan bahan kimia yang membantu mengirimkan sinyal listrik (elektrolit) melalui efek obat-obat-obatan tertentu.

Sindrom Brugada biasanya didiagnosis pada orang dewasa dan, kadang juga bisa terjadi pada remaja. Kondisi ini terbilang jarang didiagnosis pada anak kecil.

Banyak orang yang memiliki sindrom Brugada, namun tidak menunjukkan gejala apapun, sehingga mereka tidak sadar akan kondisinya. Sindrom Brugada jauh lebih sering terjadi pada pria, maka ada kemungkinan dokter Stefanus meninggal karena hal ini.

Sindrom Brugada dapat diobati dengan tindakan pencegahan seperti menghindari obat yang memberatkan dan mengurangi demam.

Jam Kerja Dokter Indonesia

Kasus dokter Stefanus lalu memicu persoalan lain soal jam kerja dokter di Indonesia. Benarkah Indonesia tidak memiliki acuan regulasi soal jam kerja dokter. 

Ternyata acuan mengenai jam kerja dokter ada pada beberapa pasal. Kasus kematian dokter Stefanus menjadi pertanyaan akibat broadcast informasi yang berlebihan. 

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes, Oscar Primadi kepada VIVA.co.id Kamis 29 Juni 2017 mencoba meluluskan hal itu.

Menurut kronologi yang disampaikan Rumah Sakit, dokter anestesi paruh waktu tersebut ditemukan tidak sadarkan diri saat berjaga. Yang bersangkutan tidak ada respons ketika petugas melakukan tindakan resusitasi dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

"Dari penjelasan pihak rumah sakit, dokter Stefanus tidak kelebihan jam kerja. Pasiennya yang ditangani juga tidak banyak", kata Oscar.