Naura dan Genk Juara dalam Pusaran Isu Agama

Naura dan Genk Juara
Sumber :
  • YouTube Naura dan Genk Juara

VIVA – "Tadinya saya pikir film ini memang film bagus seperti film Petualangan Sherina dulu. Saya pikir cocok untuk tontonan anak-anak, tapi ternyata jauh dari sebuah film yang epik dan tidak cocok untuk anak-anak. Menurut saya, ini film yang secara implisit curahan hati kemarahan si sang pembuat film atas kebenciannya pada kami muslim yang membela agama kami yang sudah dilecehkan oleh si penista agama."

Status pengguna Facebook bernama Nina Asterly itu seketika menghebohkan masyarakat. Tulisannya mendadak viral di berbagai jejaring sosial. Ditulis pada 20 November 2017, status ini sudah dibagikan lebih dari tiga ribu kali di Facebook dan tersiar berantai di WhatsApp. Sejumlah orangtua sigap menyebarkan ulang status itu, sejumlah lainnya skeptis, bahkan ada juga yang bingung tanpa tahu apa-apa.

"Iya kenapa sih? Ramai banget di WhatsApp," kata Tuti, salah satu karyawan yang juga orangtua dari dua anak laki-laki saat menerima pesan berantai tersebut kepada VIVA.

Rupanya, Nina Asterly mengkritisi film Naura dan Genk Juara yang konon disebut-sebut the next-nya Petualangan Sherina, film anak yang juga dikemas musikal dalam tema petualangan. Kisahnya tentang Naura (Adyla Rafa Naura Ayu), Okky (Joshua Rundengan), dan Bimo (Vickram Priyono) yang terpilih mewakili sekolahnya untuk bersaing dalam kompetisi sains di Kemah Kreatif yang berlangsung di kawasan hutan tropis Situ Gunung.

Anak-anak ini tanpa sengaja menemukan sekelompok pencuri satwa yang disebut sebagai Trio Licik. Bekerja sama dengan Kipli, ranger cilik, diperankan oleh Andryan Bima, yang selalu ditemani  monyet kecil bernama Cepot, dan anak-anak di perkemahan lainnya, mereka berusaha mengalahkan pencuri tersebut.

Disutradarai Eugene Panji, Naura dan Genk Juara saat ini memang tengah mengisi layar bioskop Indonesia. Namun, tiba-tiba saja protes mencuat bahkan diiringi seruan untuk tidak menonton film tersebut. Tak tanggung-tanggung, film anak ini bahkan dianggap memuat sentimen negatif terhadap Islam dan punya agenda politik tersendiri. 

Dituding Memuat Sentimen Negatif

Nina Asterly, pengunggah status Facebook kontroversial itu menulis, 

"Dimana sih letak mendeskreditkan islamnya ?? Di siniii  ?????? : Para penjahat digambarkan orang yang berjenggot, brewokan selalu mengucapkan istighfar dan mengucapkan kalimat2 Alloh lainnya...lebih ekstrim lagi saat si penjahat yang di serang anak2 lalu si penjahat lantang mengucapkan kalimat Takbir berkali-kali dan kalimat2 Alloh lainnya....Anak sy yang baru berumur 8 tahun saja dari mulai kemunculan si penjahat itu sampai film selesai terus2an bilang ke saya : Ma, itu orang itu islam tapi kok jahat tapi kok pencuri, gimana sih ??

Sy bilang ke anak sy : tidak ka itu salah, islam tidak begitu....

Sy dari awal kemunculan para penjahat di film itu langsung agak gak genah kenapa penjahatnya digambarkan seperti itu...Jawaban apa yang akan diberikan pada anak2 yang punya pertanyaan seperti anak sy apalagi orang tuanya seorang kecebong terutama kecebong sipit ?? Sangat besar kemungkinan mereka kecebong apalagi kecebong sipit akan mengamini bahwa begitulah orang2 islam, seperti penjahat di film itu...

setelah sy telusuri ternyata si pembuat film adalah seorang kecebong dan pendukung akut si penista agama....dia ungkapkan kekecewaan dia atas penahanan si penista agama di akun sosmednya....

Pantas saja dia buat film dengan peran antagonis yang memojokkan islam...untuk apa dia buat begitu kalau bukan menunjukkan kebencian dia pada kita muslim pembela ulama dan Al Qur’an ??? jadi menurut sy yang mau menonton film ini lebih baik jangan ditonton...biarkan film ini tenggelam dengan pendapatan minim....cinta islam stop menonton film2 yang mendeskreditkan islam !!!"

Tentu saja, unggahan viral ini langsung menyulut panas di berbagai ruang publik. Sejumlah kritik serupa pun ikut muncul dan menambah heboh kontroversi tersebut.

Windi Ningsih, misalnya, yang turut membuat ulasan film musikal ini di akun Facebook-nya. Beberapa poin yang ia tulis serupa dengan status Nina, antara lain tentang tema film yang membingungkan, cerita tidak mengalir, kejanggalan, dan dugaan ada framing terhadap Islam di dalam adegannya.

"Misalnya adalah tidak adanya guru pendamping dari tiap sekolah untuk mendampingi murid-murid mereka di camp tersebut. Lalu pembagian tenda yang menyatukan antara anak laki-laki dan anak perempuan," katanya pada status yang diunggah, Selasa, 21 November 2017.

Busana Naura yang menggunakan hot pants di dalam hutan pun jadi sorotan. Menurutnya, selain tak sesuai dengan budaya, mengenakan hot pants di gunung berhutan adalah pilihan yang teledor.

"Dingin iya, serangga mengintai iya, dan bahaya lainnya juga sangat mungkin. Di gunung pakai wedges pun sepertinya wajar-wajar saja dalam film tersebut, setrong kali," tulisnya lagi.

Dia bahkan menyebut film ini memuat nilai-nilai yang tendensius dalam beragama.

"Islam dicitrakan sebagai penjahat berjenggot, yang meski menteriakan takbir, sering istighfar, namun kelakuan bejat, bahkan di film dinamai trio licik. Apa susahnya memasukan kata-kata lain untuk dijadikan gimmick? KURANG IDE?! Belajarlah pada Miles (Mira Lesmana) dan timnya yang dengan kreatif membuat kata2 macam 'Trembelane' sebagai kata2 khas tokoh Kertaradjasa si penjahat (dalam film Petualangan Sherina)," tambah Windi.

"Sungguh, saya sama sekali susah melepaskan prasangka saya terhadap produser dan timnya (yg memang saya melihat daftarnya adalah orang2 yang sangat membela seorang tokoh politik) dari keberpihakan mereka. Padahal banyak orang Islam di tim itu, tokoh utama dan keluarganya pun muslim, namun mengapa sampai bisa melukai ummat muslim dengan penokohan jahat macam itu? Bukankah ini adalah cara memupuk kebencian terhadap orang lain, terhadap sebuah agama! Katanya menjunjung kebhinekaan?! Slogan saja, ternyata!! Politik boleh berbeda, namun untuk mendidik generasi bangsa, haruslah sama: BIJAKSANA!" tulisnya lagi.

Tak berhenti di sini, Windi Ningsih bahkan membuat petisi online di laman Change.org yang hingga Rabu sore, 22 November 2017 pukul 12.56 WIB sudah ditandatangani lebih dari 35 ribu orang. Petisi itu menuntut agar semua yang berwenang dalam penyiaran, pendistribusian, dan pengawasan perfilman di Indonesia menindak tegas hal ini. Produser, sutradara, dan penulis skenario pun diminta untuk merilis pernyataan maaf di hadapan publik karena dianggap sudah melecehkan Islam.

"Kami meminta pada pihak yang berwenang untuk MENARIK dan MENSTOP peredaran dan pemutaran film Naura dan Genk Juara dari jaringan industri perfilman di Indonesia karena memecah belah persatuan bangsa!" tulisnya menutup petisi tersebut.

LSF dan Sutradara Bantah Ada Unsur Hina Islam

Ketua Komisi I Lembaga Sensor Film Indonesia (LSF) yang membidani masalah penyensoran dan dialog, Imam Suhardjo membantah sejumlah kritikan yang ditujukan pengguna FB tersebut kepada film ini. 

"Tidak ada yang takbir di sana. Soal jenggot itu gambaran umum, memang penggambaran umum karakter penjahat itu punya janggut, jenggot. Salah satu penjahatnya juga pakai celana pendek, bukan celana cingkrang," ujarnya kepada VIVA saat dihubungi melalui sambungan suara, Rabu, 22 November 2017.

Terkait ada penggunaan kalimat-kalimat suci dalam Islam oleh tokoh penjahat Trio Licik, LSF tak mempermasalahkannya. Menurut mereka, wajar saja mengingat cerita juga berkisah di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim.

"Ini film dibuat dengan setting Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Jika penjahatnya beragama Islam ya wajar-wajar saja,” kata Imam.

Menurutnya, sama wajarnya dengan penjahat di film Home Alone 20-an tahun lalu yang penjahatnya non-muslim. Ketika si penjahat di tengah malam di hutan lagi ketakutan karena mengira ada hantu, salah satunya berdoa. Karena dia muslim dia bacanya doa Islam.

“Tapi yang dibaca salah 'comot', yang dibaca doa mau makan, Allhumma baariklanaa fiima razaqtanaa..dst. Dia ditegur temannya, 'Itu doa mau makan.' Kita tahu bahwa penjahatnya muslim ya karena dia baca doa itu. Tak ada penggambaran spesifik bahwa muslim itu jahat. Lagi-lagi dia adalah penjahat di negeri mayoritas penduduknya muslim," Imam menambahkan.

Pihaknya juga memberi analogi serupa jika nantinya ada film tentang kasus korupsi yang koruptornya melakukan salat atau berdoa dalam bui. Penggambaran dalam adegan itu tidak sama sekali menunjukkan bahwa Islam jahat.

"Jangankan mendiskreditkan, kita tahu kalau penjahatnya muslim pun ya hanya karena dia baca doa itu. Ketika akhirnya si penjahat terkepung salah satunya menyebut, Astaghfirullahaladzim. Pertanyaannya, di bagian manakah adegan atau cuplikan mendiskreditkan Islam? Jika dihubung-hubungkan dengan penista agama, menurut saya terlalu jauh berspekulasi," tambahnya lagi.

Alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) ini kemudian mengajak masyarakat memperluas spektrum pemikiran bersama. Jika yang dipersoalkan adalah doa dan ucapan istighfar dari tokoh jahat, maka menurutnya, berarti sosok itu digambarkan masih ingat Allah.

"Di masa lalu ada tokoh ulama bernama Syaikh Djamil Djambek yang sebelumnya adalah seorang penjahat. Ketika dia terkepung dia lompat ke sebuah sungai. Lalu istighfar dan berjanji akan tobat. Di kemudian hari dia jadi ulama," kata Imam memberi wawasan.

Sutradara Eugene Panji pun tak pernah menyangka filmnya akan diwarnai kontroversi terkait isu agama. Saat dimintai keterangan, Eugene mengaku bingung, sebab itu di luar dugaannya. Sejak awal, Eugene hanya ingin membuat film dan lagu untuk anak-anak Indonesia.

Karenanya apa pun jawaban yang ia berikan pasti tidak akan memuaskan. Ia menerangkan, sebuah film dibuat dengan imajinasi-imajinasi, kebutuhan-kebutuhan, dan baginya kebetulan ternyata si penjahat dianggap Islam dan segala macam.

“Di film Indonesia lain juga, ya kita trace back aja, apakah penjahatnya bukan Islam? Mau penjahat Islam atau Kristen atau segala macam enggak ada yang salah dengan agamanya yang ada ya orangnya. Menurutku yang salah bukan agamanya kok, jadi jangan terus mengarahkan ke situ, tapi aku enggak mau komen di situ lagi karena domainku dari sisi kreatif," ujar Eugene, Rabu, 22 November 2017.

Mendorong Bangkitnya Film Anak Indonesia

Imam Suhardjo yang merupakan salah satu fungsionaris Majelas Ulama Indonesia (MUI) ini menyayangkan protes dan pemboikotan film ini. Naura dan Genk Juara, menurut Imam, hanya tayang di 10 layar bioskop di Jabodetabek, jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan film luar negeri, Justice League sebanyak 40 layar.

Protes ini dikhawatirkan bisa berdampak pada lesunya film Indonesia bergenre anak-anak di kemudian hari. Para sineas bisa saja takut atau enggan membuat film lain ke depannya. Euegene, sang sutradara memberi pandangan serupa.

"Buat saya, film ini adalah film yang sehat, kalaupun ternyata kemudian ada kritik salah penggunaan kata atau segala macam ya monggo buat saya enggak apa-apa, kan pembuat film pasti enggak sempurna, film itu enggak ada yang sempurna di dunia, pasti ada aja salahnya. Cuma kritik aja sesuai porsinya, tapi kemudian apa yang kita bikin itu sifatnya menghasut it's a different case, kalau kemudian isunya adalah menghasut, membenci agama sesuatu gitu, waduh jauh dari pikiranku sih. Konsentrasi saya adalah bagaimana Indonesia mempunyai film anak-anak lagi, bagaimana Indonesia punya lagu anak-anak lagi yang sehat buat mereka," jelas Eugene.

Terakhir, Imam kembali menegaskan, film ini sudah melalui proses sensor yang sesuai dengan Undang-undang. Ia bahkan terbuka jika masyarakat ingin berdiskusi dan duduk bersama untuk membahas masalah ini. Baginya, isu agama yang panas dalam Naura dan Genk Juara terlalu berlebihan.

"Dari tim sensor ada doktor UIN. Aku (alumni IAIN juga dan Ketua LSF Ahmad Yani juga alumni IAIN) ikut nonton, walaupun bukan tim sensor. Rasanya kami bertiga tak kalah cinta terhadap Islam dan bukan orang yang tak paham agama. Saya alumni 212. Ikut demo di Monas dalam usia menjelang 70 tahun, jadi terlalu jauh kalau dikaitkan dengan membela penista agama," tegasnya menutup perbincangan bersama VIVA. (umi)