Menuju Negara Bahagia untuk Anak

Ilustrasi anak-anak
Sumber :
  • pixabay/stockpict

VIVA – Pertengahan November 2017, publik digemparkan dengan tewasnya seorang bocah laki-laki berusia lima tahun di Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Anak itu tewas setelah disemprot obat nyamuk oleh ibunya.

Perkaranya sangat sepele, ibu korban yang berinisial NW dan berusia 32 tahun tak mampu menahan emosi karena anaknya tak berhenti ngompol dan menangis. Ia lalu menyemprotkan obat nyamuk ke wajah anak itu dan membekap wajahnya. Tangisan GW, bocah lima tahun itu lalu terhenti. Ia bukan tertidur, ia tewas di tangan ibunya sendiri.

Pekan berikutnya, masih di Kebun Jeruk, seorang ayah digelandang ke kantor polisi. Ia diduga melakukan kekerasan seksual pada dua anaknya yang berusia remaja, LP yang berusia 16 tahun dan L, yang berusia 14 tahun. Perbuatan bejat itu sudah ia lakukan selama dua tahun terakhir. Perbuatan biadab sang ayah terbongkar karena kedua anak itu akhirnya mengadu pada ibu mereka.

Dua aksi kekerasan yang dilakukan orangtua terhadap anaknya seolah menguatkan laporan yang dirilis oleh Lembaga Perlindungan Anak Indonesia atau LPAI. Ketua LPAI Seto Mulyadi mengatakan, sepanjang tahun 2017 ada 114 kasus kekerasan yang terjadi pada anak. "Pelaku didominasi oleh orang tua. 33 Persen pelaku adalah ayah, dan 21 persen pelaku ibu korban," ujarnya, Kamis, 28 Desember 2017.

Angka yang dirilis LPAI jauh lebih sedikit dibanding yang dirilis Komnas Perlindungan Anak. Ketua Umum Konmas PA Arist Merdeka Sirait mengatakan, sepanjang 2017 Komnas PA menerima 2.737 pengaduan kasus kekerasan pada anak. Menurut Komnas PA, angka ini menurun dibanding tahun lalu yang mencapai 3.339 kasus.

"Dari angka 2.737 tersebut, 52 persen lebih didominasi kejahatan seksual, yang tidak hanya dilakukan orang per orang, tapi juga secara bergerombol atau disebut gang rape," ujarnya saat menggelar konferensi pers di kantor Komnas PA Pasar Rebo, Jakarta, Rabu 27 Desember 2017. Bentuk kekerasan seksual itu adalah perkosaan, pencabulan, inses, dan yang paling mendominasi adalah sodomi.

Arist juga mengungkapkan, korban anak laki-laki yang paling banyak menjadi sasaran predator, jumlahnya 59 persen. Sementara jumlah korban anak perempuan mencapai 40 persen. Mayoritas pelaku kekerasan pada anak adalah orang-orang terdekat, ujar Arist.