Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Melepas Ramadhan dengan Takbir

Jumat, 22 Mei 2020 | 13:13 WIB
Foto :
  • republika
Source : Republika

Namun menurut Syaikh Zainuddin al-Malibari dalam Fath al-Muin, sunah membaca takbir pada malam Hari Raya Idul Fitri. Tepatnya sejak matahari terbenam yang ditandai dengan terlihatnya hilal bulan Syawal sampai imam membaca takbiratul ihram saat shalat Idul Fitri. Jadi terdapat rentang waktu sekitar dua belas jam untuk menggemakan takbir.

Menggemakan takbir pada malam Hari Raya Idul Fitri termasuk bagian dari sunah Nabi SAW, seperti sabda beliau, “Barangsiapa yang menghidupkan malam Idul Fitri dan malam Idul Adha dengan mengharap pahala maka hatinya tidak akan mati ketika semua hati mati.” (HR. Thabrani). Takbir itu sendiri sejatinya adalah doa dengan cara memuji.

Baca Juga

Tentang perintah bertakbir setelah terlihat hilal bulan Syawal, diperkuat oleh Syaikh Nawawi Banten dalam Tafsir Munir dengan mengutip pendapat Ibnu Abbas. Bahkan menurut Imam Syafi’i, seperti dikutip Syaikh Nawawi, takbir pada dua hari raya itu, baik Idul Fitri maupun Idul Adha dianjurkan untuk digemakan. Maksudnya, dibaca dengan suara keras.

Selain itu, dianjurkannya takbir agar dibaca dengan suara keras karena takbir adalah bagian dari syiar-syiar Allah SWT. Seperti firman-Nya, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. al-Hajj/22: 32). Jadi ada korelasi antara puasa, takwa, dan takbir.

Secara filosofis, makna terdalam takbir adalah pengakuan bahwa hanya Allah Yang Mahabesar. Ke-Maha-Besaran-Nya bukan karena dibesarkan makhluk-Nya baik dalam takbir mursal maupun takbir muqayyad. Lantunan kalimat takbir sejatinya adalah doa agar kita dibesarkan-Nya, baik ilmu, amal, dan hikmah.

Topik Terkait
Saksikan Juga