Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Dalam 10 Bulan, Penonton Streaming Bajakan Menurun 55 Persen

Rabu, 15 Juli 2020 | 17:50 WIB
Foto :
  • Pexels
Ilustrasi digital streaming video.

VIVA – Penelitian terbaru YouGov tentang perilaku menonton konten online dari konsumen Indonesia telah menemukan adanya penurunan besar-besaran. Terjadi penurunan sebesar 55 persen konsumen yang mengakses situs pembajakan selama sepuluh bulan terakhir.

Survei yang ditugaskan oleh Asia Video Industry Association’s Coalition Against Piracy (CAP) dan dilakukan oleh YouGov, menemukan 28 persen dari pelanggan online yang sekarang ini menggunakan website streaming bajakan dan situs torrent untuk mengakses konten bajakan, jauh lebih kecil 63 persen dari survei yang sama di September 2019.

Baca Juga

Penurunan yang signifikan di tingkat konten bajakan yang diidentifikasi oleh survei YouGov ini didukung oleh analisis data lalu lintas Indonesia yang dilakukan oleh Koalisi Anti-Pembajakan (CAP) AVIA, yang melihat jangkauan keseluruhan ke web streaming bajakan menurun 68 persen antara Agustus 2019 dan Juni 2020.

Jika dibandingkan dengan survei serupa yang dilakukan oleh YouGov CAP di kawasan ini, Indonesia saat ini memiliki tingkat penggunaan ISD terendah jika  dibandingkan dengan Hong Kong, Singapura, Thailand, Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Taiwan, dan merupakan yang kedua setelah Singapura yang saat ini memiliki tingkat terendah konsumen yang mengakses situs web pembajakan aliran atau situs torrent.

Apa yang menyebabkan lintasan lalu lintas pembajakan yang dramatis ini?

Pemblokiran situs bajakan menjadi penyebab penurunan yang signifikan ini. Sejak Juli 2019, Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO), bekerja sama dengan Video Coalition of Indonesia (VCI), telah memblokir lebih dari 2.300 situs streaming pembajakan dan aplikasi ISD rata-rata enam puluh (60) situs pembajakan diblokir setiap 10 hari.

Meskipun kemudian diperluas ke semua situs pembajakan, fokus awalnya adalah pada kelompok kejahatan “indoXXi” yang berbasis di Indonesia, yang situs utamanya adalah salah satu situs paling populer di Asia Pasifik. Tingkat pembajakan yang merajalela diidentifikasi oleh YouGov pada akhir 2019 sudah dinaikkan ke kantor Presiden dan Wakil Presiden, mengakibatkan pejabat senior pemerintah berjanji untuk mengidentifikasi dan menuntut mereka yang mengoperasikan jaringan situs indoXXi kecuali mereka menghentikan operasinya.

Pemblokiran situs 'bergulir' pemerintah berlanjut hingga 2020 dan menurut survei konsumen independen terbaru ini berdampak langsung pada kebiasaan menonton konsumen, dengan 50 persen konsumen yang memperhatikan situs web pembajakan terus diblokir dan menyatakan bahwa mereka tidak lagi mengakses situs web pembajakan apapun. Lebih lanjut, 34 persen  menyatakan bahwa mereka sekarang “jarang” mengakses situs web pembajakan.

Pemblokiran situs terus-menerus juga memiliki dampak signifikan pada perilaku konsumen yang kini
lebih cenderung mengakses platform konten yang legal. Sebanyak 16 persen konsumen yang mengatakan mereka mengetahui pemerintah memblokir situs film bajakan, sejak itu berlangganan layanan streaming berbayar; kemudian konsumen sebesar 23 persen mengatakan mereka sekarang menghabiskan lebih banyak waktu menonton layanan streaming lokal gratis (AVOD); dan sebanyak 74 persen konsumen sekarang dominan menonton layanan streaming internasional (AVOD) gratis.

Topik Terkait
Saksikan Juga
Terpopuler