Sony Dwi Kuncoro Ungkap Jasa Eks Pelatih Pelatnas Cipayung Asal China

Eks Pelatih Pelatnas PBSI asal China, Li Mao
Sumber :
  • PP PBSI

VIVA – Prestasi tunggal putra Indonesia yang belum stabil kerap memuncukan pertanyaan publik bulutangkis Tanah Air. Makin sengitnya persaingan di level papan atas dunia, serta masih belum memamdainya jumlah para pemain pelapis menjadi salah satu pemicu tak menterengnya torehan tunggal putra belakangan ini.

Isu dan wacana penggunaan pelatih asing untuk sektor tunggal Pelatnas PBSI pun sempat mengemuka beberapa waktu lalu. Wacana tersebut disebut-sebut bisa menjadi salah satu opsi mendongkrak pencapaian prestasi Jonatan Christie cs.

Pengalaman dan kesan setelah dilatih oleh pelatih asing pun kini turut dirasakan oleh eks pebulutangkis Pelatnas Cipayung, Sony Dwi Kuncoro. Pria jebolan klub PB Suryanaga Surabaya tersebut punya memori ditangani pelatih asing saat dirinya masih bergabung dengan Pelatnas PBSI.

Adalah pelatih berkebangsaan China, Li Mao yang bagi Sony punya peran besar dalam membentuk performanya mampu bersaing hingga usia yang terbilang tidak muda lagi. Li Mao merupakan pelatih tunggal putra Pelatnas PBSI pada tahun 2011-2012 silam, yang juga pernah melatih para pemain top dunia seperti Lin Dan dan Lee Chong Wei.

“Ya saya sempat dilatih Li Mao, saya dekatnya sama Li Mao sebab yang lainkan pada nolak gitu dilatih dia. Awalnya saya juga nggak nerima dengan metode latihannya, karena kan dia juga kesulitan komunikasi dengan kita, opo toh ini?” ungkap Sony kepada VIVA.

“Sebelum ditangani Li Mao saya itu sempat cedera lama itu sekitar setengah tahun dan sampai berlatih nggak kuat lalu dirawat sama dokter dari China, tapi setelah itu bisa juara 3 kali dan jadi ranking dunia 3 lagi itu karena Li Mao,” ujar Sony.

Sony pun mengaku salah satu metode latihan yang paling berkesan yang pernah diterapkan Li Mao sangat menunjangnya memiliki karier cukup panjang di pentas bulutangkis hingga usianya saat ini.

“Sebenarnya program latihannya nggak berat, tapi cuma merubah yang kurang ideal saja. Cuma kadang-kadang terkendala dipenyampaiannya. Di Indonesia jadi juara itu tidak bisa dibentuk 100 persen kayak negara lain, tapi justru punya teknik pukulan yang sudah matang,” kata Sony.

“Nah disitulah, kadang-kadang kita dulu ada perasaan ‘ah bulutangkis kita ini sudah hebat, ngapain pakai pelatih dari luar lagi?’ jadi ada pengurus yang nggak cocok sampai bilang kayak gitu jadi semua terdoktrin seperti itu. Padahalkan semua ilmu itu kan kita harus pelajari dan dibandingkan kalau ingin maju,” jelas peraih medali perunggu Olimpiade Athena 2004 tersebut.