Kisah Masa Kecil Ronaldo, Diejek Karena Ayahnya Tukang Kebun

Kartu anggota Cristiano Ronaldo di Sekolah Sepakbola Andorinha tahun 1994/1995
Sumber :
  • The Sun-Neil Munns

VIVA – Sebagai sosok megabintang sepakbola saat ini, rupanya seorang Cristiano Ronaldo pun sempat punya kisah pilu di masa kecilnya dulu. Sebuah cerita menarik dari awal perjalanan sang maestro itu pun kini mengemuka kembali, seperti dilansir The Sun.

Mengawali kariernya pada usia 7 tahun, seorang CR7 muda terlihat jauh sekali dari sosok dewa sepakbola yang kita kenal sekarang, dimana pekan ini ia berusia 35 tahun dan belum menunjukan tanda-tanda penurunan performanya.

Ronaldo bocah kala itu berambut lebat dengan senyuman canggung, yang seperti menjadi pemenang 5 gelar Ballon d'Or tak pernah sedikit pun terpikirkan di benak si bocah ini.

Bocah kelahiran Madeira itu mulai bermain pada usia 7 tahun untuk klub lokal, Club Futebol Andorinha sebelum ia mencoba peruntungannya dengan Club Desportivo National.

Namun, karena latar belakang keluarganya yang miskin, Ronaldo berharap dia hanya akan menjadi nelayan miskin di desanya.

“Ketika saya masih kecil saya berpikir bahwa pada umur 35 saya akan memancing di Madeira. Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya untuk bermain di mana saya bermain dan memenangkan apa yang saya menangkan," ungkap Ronaldo yang dilansir Canal 11.

Dalam sebuah gambar saat kecilnya dulu yang menjadi viral di media sosial, sang bintang tengah jalanan di lingkungannya. Bahkan saat sang ibunda Ronaldo, Maria Dolores dos Santos sedang mengandungnya saat hamil, sempat tersirat untuk menggugurkan bayinya itu.

"Dia adalah anak yang ingin saya batalkan. Tuhan tidak ingin itu terjadi dan saya diberkati karena itu dan Tuhan tidak menghukum saya,” ujar Maria dalam film dokumenter 'Ronaldo'.

Ketika Ronaldo bermain untuk tim yunior pertamanya Andorinha, sang ayah, Jose Dinis Aveiro harus bekerja sebagai kit man yang bertugas merapikan ruang ganti dan harus mencuci semua perlengkapan pemain.

Aveiro mendapatkan pekerjaan itu karena Ronaldo bermain untuk tim tersebut. Tapi Ronaldo justru diejek rekan-rekan setimnya karena profesi sampingan ayahnya untuk menambah penghasilan sebagai tukang kebun.