Akhiri Paceklik Emas 13 Tahun, Kebangkitan Anggar Aceh di PON XX Papua

Tim anggar Aceh di PON XX Papua.
Sumber :
  • ANTARA/Yogi Rachman

VIVA – Tuntas sudah penantian panjang kontingen Aceh selama 13 tahun memburu kepingan medali emas cabang olahraga anggar dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON).
 
Gedung Serbaguna Gereja St. Yoseph Merauke menjadi saksi perjuangan atlet asal Serambi Mekah mencatat prestasi pada nomor Floret Beregu Putra usai mengalahkan Riau dalam pertandingan final PON XX Papua yang berakhir dengan skor 45-39.
 
Aceh yang diperkuat oleh Erwan Tona, Zaidil Al Muqaddim, dan Yudi Anggara Putra berhasil unggul setelah melalui pertandingan sengit melawan Riau yang diperkuat Muhammad Fuad, Muhammad Fatah Prasetyo, Muhammad Anggi Normansyah.
 
Provinsi ujung barat Indonesia itu terakhir kali meraih emas cabang olahraga anggar pada PON XVI Sumatera Selatan tahun 2004. Sejak saat itu, Aceh belum mendapatkan medali emas.
 
Satu medali emas yang mempunyai arti mendalam bagi perjalanan olahraga anggar di Aceh usai dihantam bencana Tsunami pada tahun 2004 yang mengakibatkan banyak atlet berbakat dari cabang olahraga tersebut menjadi korban.
 
Generasi emas
 

Aceh suatu waktu pernah memiliki atlet-atlet anggar berprestasi sejak era 1970-an hingga 2000-an.
 
Sejumlah atlet anggar berprestasi asal Aceh di antaranya T. Idwar, Iswahyudi, Ema Susana Madjaji, Murisnawati, Sofyan, Elvizar, Habli, Mardani, hingga Alkindi.
 
Nama-nama itu pernah merajai nomor sabel, floret, degen baik individual maupun beregu dan langganan meraih medali emas pada ajang seperti PON.


 
Bahkan nama terakhir yang disebut yaitu Alkindi pernah tampil di Olimpiade Seoul 1988 sekaligus menjadi atlet asal Aceh pertama yang lolos ke olimpiade. Pria kelahiran Banda Aceh 6 April 1962 itu, berkompetisi dalam nomor individu floret di Olimpiade Seoul 1988.
 
Alkindi saat itu tergabung di Round 1 Pool G bersama atlet anggar kelas dunia lain seperti Aleksandr Romankov (Uni Soviet), Bill Gosbee (Inggris), Jesús Esperanza (Spanyol), Dave Littell (Amerika) dan Roberto Lazzarini (Brasil).
 
Namun sayang Alkindi belum berhasil melangkah lebih jauh pada Olimpiade Seoul 1988 setelah menelan lima kali kekalahan.
  
Bencana Tsunami
 
Bencana Tsunami yang menerjang Aceh pada 26 Desember 2004 memberikan dampak sangat besar bagi perkembangan olahraga anggar yang sebelumnya telah menunjukkan prestasi.

Tsunami Aceh

Photo :
  • U-Report

 
Banyak atlet-atlet anggar berprestasi asal Aceh yang ikut menjadi korban dalam peristiwa yang menewaskan lebih dari 100 ribu jiwa tersebut. Sebuah pukulan yang sangat telak bagi anggar Aceh.
 
"Setelah (Tsunami) itu banyak atlet kita yang hilang termasuk peraih medali emas PON di Sumatera Selatan," kata Manajer tim anggar Aceh Husaini.
 
Husaini mengatakan butuh waktu yang lama bagi anggar Aceh untuk menata kembali asa mereka dalam meraih prestasi tertinggi. Berulang kali gagal tak membuat pegiat olahraga anggar Aceh putus asa.
 
Pembinaan berkesinambungan terus dilakukan oleh Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (IKASI) Aceh dengan mencari bibit atlet unggul hingga ke pelosok-pelosok daerah untuk dilatih. Buah dari kerja keras dan kesabaran itu pun perlahan mulai terlihat dalam ajang PON XX Papua.
 
Tim anggar Aceh secara keseluruhan meraih satu emas, satu perak, dan dua perunggu dalam ajang PON XX Papua.
 
"Selain Pengcab yang ada 15 kemudian kita ada pembinaan di Dinas Pemuda dan Olahraga melalui Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP)," ujar Husaini.
 
Tunas baru
 
Kontingen anggar Aceh mengirimkan sebanyak delapan atlet ke PON XX Papua, yang terdiri dari tiga floret putra, dua sabel putra, dua sabel putri dan satu degen putra.
 
Delapan atlet tersebut, yakni Erwan Tona, Zaidil Al Muqaddim dan Yudi Anggara Putra untuk nomor Floret Individual Putra, serta Ody Tasmara untuk Degen Individual Putra.
 
Kemudian Saidi Nanda Mulkan dan Dhimas Mahendra untuk nomor Sabel Individual Putra, serta Elvanda Cantika Putri dan Ummi Nadra untuk Sabel Individual Putri. Rata-rata usia para atlet tersebut masih tergolong muda di bawah 26 tahun.
 
Erwan Tona mengatakan bahwa dirinya tidak bisa menyembunyikan rasa haru ketika berhasil memastikan medali emas anggar nomor Floret Beregu Putra.
 
Pria berusia 26 tahun kelahiran Takengon itu mengatakan bahwa raihan medali emas pada PON XX Papua dipersembahkan untuk masyarakat Aceh.
 
"Bagi saya tentunya medali yang kami dapat ini pertama adalah untuk mengembalikan marwah Aceh khususnya di cabang olahraga anggar. Pencapaian yang kami dapat tidak terlepas dari doa dari masyarakat Aceh khususnya," ujar Erwan Tona.
 
Erwan Tona mengatakan bahwa dirinya sejak awal yakin mampu meraih emas setelah melakukan evaluasi dari hasil-hasil pertandingan saat persiapan menuju PON XX Papua.
 
"Kita melihat pada Pra PON dua tahun lalu di Semarang, kita juga final ketemu dengan Riau kemudian pada saat main di final itu kita sudah leading poinnya. Kemudian teman kita tiba-tiba cedera tidak bisa lagi bermain maksimal di situ kesempatan mereka untuk mengungguli Aceh," tutur Tona.
 
Lebih lanjut, dia mengatakan ke depannya tim anggar Aceh akan terus melakukan pembinaan jangka panjang demi ambisi meraih prestasi terbaik pada penyelenggaraan PON tahun 2024 ketika bertindak sebagai tuan rumah.
 
"Tentu dengan tolak ukur yang hari ini kita dapat anggar Aceh khususnya akan melakukan pembinaan jangka panjang. Hal itu tentu berdampak pada target emas lebih banyak lagi," kata Tona.
 
PON XX Papua menjadi arena pembuktian bahwa impian dapat diwujudkan dengan kerja keras dan usaha pantang menyerah. Berkaca pada tim anggar Aceh yang telah membuktikan bahwa gelombang Tsunami pun tak menyurutkan semangat mereka untuk kembali meraih prestasi. (Ant)