Kisah Liliyana Natsir Mulai Tekuni Bulutangkis

Pebulutangkis Indonesia, Liliyana Natsir.
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – Jalan hidup seseorang meraih kesuksesan tidak pernah ada yang tahu. Begitu juga perjalanan karier peraih medali emas Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil 2016, Liliyana Natsir.

Butet, begitu sapaan gadis Manado kelahiran 9 September 1985 ini, mengawali karier bulutangkis saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Tepatnya di SD Kristen Eben Haezar 2 Manado. Guru olahraga Butet, Julian Doodoh sedikt berkisah mengenai karier bulutangkis pasangan Tontowi Ahmad ini.

Julian menuturkan, kala itu ada ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat Kecamatan Wenang. "Saya masuk kelas Liliyana Natsir dan tanya siapa yang ingin ikut O2SN cabang olahraga bulutangkis dengan spontan dia langsung acungkan tangan. Nah, saat itulah Liliyana tekuni bulutangkis," katanya Minggu 28 Agustus 2016.

Mulai O2SN tingkat Kecamatan Wenang, tingkat Kota Manado hingga level provinsi sukses dimenangkan Liliyana. "Tak ada yang mampu menyainginya ketika itu. Tapi sayang saat hendak dikirim ke tingkat nasional, nama Liliyana diganti orang lain dengan alasan kondisi fisik tidak kuat. Wuih, kejam juga mengingat kejadian itu," kata Julian yang kini telah pindah sebagai guru olahraga di SD 6 Manado.

Hanya saja, lanjut dia, Liliyana tak patah semangat. Dalam kejuaraan bulutangkis tingkat Sulut secara perkasa dia mengalahkan atlet yang menggantikan dirinya saat akan dikirim ke O2SN.

"Iya Liliyana kalahkan katanya atlet yang ganti Liliyana mewakili Sulut ke O2SN tingkat nasional. Sampai di situ cerita belum selesai. Kelas 5, ada tawaran masuk Pelatnas dan sudah 100% akan berangkat tiba-tiba ada orang yang ingin menyogok saya agar menggagalkan Liliyana masuk Pelatnas. Uang sudah diberikan kepada saya Rp500 ribu tapi saya tolak," ujar Julian yang tersenyum mengingat perjalanan Liliyana Natsir.

Ia pun mendiskusikan dengan ayah Liliyana, Benno Natsir bagaimana kesiapannya masuk Pelatnas dan Klub Bimantara Tangkas agar Liliyana benar-benar jadi atlet bulutangkis profesional.

"Diskusi kami misalnya Liliyana sebaiknya main ganda bukan tunggal. Tapi ayahnya berpikir tunggal sulit untuk juara hingga tingkat dunia kalau ganda peluang lebih besar. Pemikiran itu ada benarnya dan terbukti raih emas Olimpiade, puncak prestasi tertinggi seorang atlet. Saya sangat bangga dengan prestasi Liliyana," katanya.

Sebagai pelatih semasa SD cukup senang melihat keberhasilan Liliyana. "Itu saja. Kami tak butuh Liliyana mengingat kami yang pertama membawanya menekuni bulutangkis yang penting kami bisa menghidupkan orang lain. Itulah kebanggaan yang tiada tara," ujar lulusan Universitas Negeri Manado ini.