Berhati-hatilah dengan Modus Pencurian yang Semakin Beragam

Ilustrasi maling.
Sumber :
  • Meutiak Bachnar

VIVA.co.id - Sore itu tepatnya sekitar sebulan yang lalu saya sedang asyik menikmati makanan di sebuah restoran cepat saji di daerah Pekayon, Bekasi, bersama seorang teman saya. Pengunjung di restoran itu tidak cukup banyak, namun kami memutuskan untuk memilih duduk di ruangan terbuka tepatnya di area samping restoran.

Awalnya tidak ada yang aneh, suasana cukup tenang dan nyaman untuk berbincang-bincang. Duduk tepat berselang satu meja dari kami sekumpulan anak-anak usia sekolah yang tampak tertawa-tawa menikmati obrolan mereka. Aku pun memulai obrolan ringan bersama rekanku sambil menikmati beberapa hidangan yang sudah kami pesan. Sampai tiba-tiba muncul seseorang yang amat sangat mengganggu kenyamanan kami.

Entah dari mana datangnya, seorang anak perempuan kira-kira berusia 15 tahunan tiba-tiba muncul dan menduduki meja di antara kami dan sekumpulan anak remaja yang memang kebetulan kosong. Anak perempuan itu tampak berantakan, duduk tergesa-gesa sambil menangis-nangis keras. Aku yang kaget, spontan langsung bergeser karena posisi meja memang agak berdempetan. Anak itu terus menjerit, dan dari tangisannya terdengar sepertinya dia sedih karena tidak lulus dalam sebuah ujian. Entah ujian apa, tapi hati kecilku langsung memberikan sinyal negatif terhadap tingkah laku anak itu.

Tangisan dan jeritan bernada marah-marah dari anak itu benar-benar mengganggu kami. Bahkan, ketika kami mengabaikannya dan mencoba terus berbincang jeritannya malah semakin keras, membuat kami benar-benar terganggu. Tidak ada satu pun satpam yang terlihat, mungkin karena posisi duduk kami di luar membuat jeritan anak itu tidak terdengar sampai ke dalam. Sekumpulan anak remaja yang tadi asyik berbincang pun mulai terdiam melihat perilaku anak perempuan tersebut.

Selang beberapa menit, muncul seorang wanita paruh baya yang mengaku sebagai ibu dari si anak. Dia mencoba menenangkan anaknya, dan si anak terus menjerit dan marah-marah. Aku menatapnya dengan tajam menunjukkan kalau tingkah lakunya benar-benar mengganggu, tapi si anak memelototiku dan langsung membentak-bentak seperti orang stres.

Alhamdulillah, kalau menemukan peristiwa janggal seperti ini instingku dapat bereaksi dengan cepat. Aku curiga, dan langsung melindungi tas dan barang-barang berhargaku seperti dompet dan handphone. Namun sayang, tidak begitu dengan temanku. Posisi duduk kami berhadapan, aku sederet dengan ibu si anak dan temanku bersebelahan dengan si anak "stres". Posisi duduk anak itu terus mepet kepada temanku, tapi temanku sama sekali tidak curiga.

Selain melindungi barang-barangku, mataku juga terus memperhatikan gerak-gerik anak itu. Aku takut kalau sampai barang-barang temanku ada yang hilang. Kami pun tidak dapat menikmati makanan kami dengan nyaman karena si anak terus berteriak-teriak.

Tanpa menghabiskan makanannya, temanku menawarkanku untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Tapi karena aku sudah curiga, aku sama sekali tidak mau meninggalkan tempat dudukku. Aku mempersilahkan temanku untuk mencuci tangan terlebih dahulu sambil kukedipkan mataku mencoba memberi sinyal untuk berhati-hati. Tapi temanku tidak mengerti, dia dengan santai berdiri dan pergi mencuci tangannya.

Aku yang berada sendirian di meja terus berusaha fokus pada barang-barangku dan tas temanku yang dia tinggalkan di meja. Aku memasang muka jutek sejutek-juteknya, dan sampai hampir tidak berkedip terus mengamati jangan sampai kedua orang aneh itu menyentuh barang-barang kami. Begitu temanku kembali, aku langsung mengajaknya pergi. Temanku sampai heran melihatku tidak mencuci tangan, tapi hanya membersihkan tanganku dengan tisu basah, padahal aku tipe yang sangat anti tidak cuci tangan dengan air setiap sehabis makan.

Kami pun pergi meninggalkan kedua orang itu dan langsung menuju parkiran. Aneh, di saat aku menaruh curiga teramat sangat pada perilaku dua orang itu temanku ternyata sama sekali tidak curiga. Dia malah mengungkapkan rasa ibanya melihat anak perempuan yang masih remaja itu sudah stres hanya karena tidak lulus ujian. Aku tersenyum, dan langsung mengungkapkan kecurigaanku.

Di dalam mobil, sebelum kami memutuskan pergi aku meminta temanku untuk memeriksa barang-barangnya. Aku mengatakan kalau aku sudah memperhatikan barang-barangnya, dan sepertinya mereka tidak menyentuh barang kami sama sekali. Handphone ada, dompet ada, semua lengkap. Barang-barang kami selamat, mungkin aku terlalu berpikir negatif kata temanku.

Kami pun keluar area restoran tersebut, dan karena bensin sudah hampir habis, kami mampir ke pom bensin yang jaraknya hanya sekitar 500 meter. Temanku keluar untuk mengisi bensin, sedang aku tetap di dalam mobil. Tiba-tiba temanku masuk lagi ke dalam mobil dengan wajah yang sangat pucat. Ternyata semua uang di dompetnya hilang. Aku bergegas membuka dompetku dan memeriksanya, Alhamdulillah isinya lengkap.

Setelah membayar bensin dengan uangku, kami pun berhenti di pinggir jalan untuk menenangkan temanku yang mulai panik. Pikiran kami sama, langsung tertuju pada kedua orang "aneh" tadi. Ternyata kecurigaanku benar, mereka adalah pencuri dengan modus pengalihan perhatian seperti itu. Yang membuat kami tidak habis pikir adalah bagaimana cara mereka mengambil uang di dalam dompet temanku, padahal dompet itu berada di dalam tas.

Aku selalu memperhatikan gerakan mereka, kalaupun mereka sempat memasukkan tangannya ke dalam tas temanku pasti akan sulit bagi mereka untuk membuka dompet kemudian memasukkannya kembali. Kalaupun memang tangannya yang mengambil, pasti seluruh dompetnya akan diambil, tapi ini hanya uangnya saja yang hilang. Benar-benar aneh.

Kami pasrah dan merelakan uang kami yang hilang. Kami hanya bisa berpesan kepada teman-teman agar senantiasa berhati-hati dan jangan mudah percaya dengan orang yang tidak kita kenal. Anak yang masih berusia remaja pun ternyata sekarang sudah berani menjadi penipu seperti itu. Perbanyaklah berdoa supaya kita terhindar dari orang-orang yang berniat jahat seperti itu. (Cerita ini dikirim oleh Nazma Alnaira, Bekasi)