Belajarlah Menerapkan Pola Hidup Sederhana

Ilustrasi hidup sederhana
Sumber :
  • http://rosid.net
VIVA.co.id - Saya bukan pecinta Jokowi, tapi saya juga bukan haters
beliau. Mendengar nama Jokowi yang terlintas di benak saya hanya satu, yaitu Presiden Republik Indonesia. Saya tidak akan menuliskan tentang bagaimana cara Jokowi memimpin negeri ini, saya juga tidak akan menilai bagaimana pribadi seorang Jokowi karena saya bukan dewan juri yang tugasnya menilai.

Biasanya saya malas menuliskan sesuatu tentang orang lain, siapa pun mereka, baik artis, politisi, pengusaha, pengemis, atau apalah. Saya lebih suka menuliskan tentang pemikiran saya, pengalaman hidup, ide-ide pribadi saya, yang pasti tidak berhubungan dengan kehidupan orang lain, karena takut jatuhnya menjadi fitnah.


Tapi beberapa saat yang lalu ada sesuatu yang membuat saya ingin sekali menuliskan apa yang ada dipikiran saya, yang kebetulan berhubungan dengan keluarga orang nomor satu di Indonesia ini.


Tanpa sengaja saya melihat seorang teman saya men-
share
sebuah berita tentang anak Jokowi, Gibran, beserta istrinya, Selvi, yang sedang memeriksakan kehamilan calon anak pertama mereka di sebuah klinik umum di Solo. Awalnya iseng saya klik berita tersebut dan membaca keseluruhan isi beritanya. Menurut isi berita tersebut, kalau informasi itu didapat dari seorang warga Solo yang tanpa sengaja bertemu mereka karena sedang berada di klinik yang sama.


Bukan klinik mewah pun bukan klinik bertaraf internasional, hanya klinik biasa yang disebut bertarif Rp.50,000 untuk sekali kontrol. Bukan hanya itu, pasangan anak dan menantu Presiden RI itupun ternyata tetap mengantri seperti pasien lainnya tanpa terlihat adanya pengawalan apapun.


Entahlah, mungkin bagi sebagian orang ini hanyalah berita biasa, tapi bagi saya ini luar biasa. Sepengetahuan saya sebagai masyarakat umum, ini adalah kali pertama saya dengar seorang anak presiden mau memeriksakan kehamilan pertama di klinik biasa. Tanpa mau membandingkan dengan siapapun, tapi saya sendiri saja begitu antusias
nya menyambut kehamilan pertama sampai enggan memeriksakannya ke klinik-klinik biasa dan memilih periksa ke rumah sakit besar yang lebih berkelas. Tapi ternyata hal ini tidak berlaku bagi anak dan mantu presiden ini, sungguh luar biasa!


Tidak usah berpikir terlalu jauh dan menilai terlalu panjang. Coba saja kita bayangkan seandainya kita adalah anak seorang Presiden. Apakah kita mau bertindak sesederhana itu? Apakah kita bisa tetap hidup "biasa" saja padahal ayah kita adalah orang nomor satu di negeri ini? Saya yakin, belum tentu kita semua bisa melakukannya.


Bagi yang berpikir negatif pasti akan menilai kalau ini adalah sebuah pencitraan atau apalah. Sebaliknya, bagi sang pencinta atau yang biasa dikenal dengan
Jokowi Lovers
pasti akan dengan bangga mengatakan, "ini dia presiden pilihanku!".


Jokowi pada hakekatnya adalah manusia biasa, hanya saja saat ini atas izin Allah SWT beliau terpilih menjadi orang nomor satu di negeri ini. Sebagai manusia, Jokowi bukanlah malaikat yang selalu berbuat benar, beliau pun bukan setan jahat yang melulu berbuat salah. Berhentilah menilai dari sudut pandang yang menjatuhkan. Tidak perlu disanjung terlalu agung, tapi juga jangan sampai tidak menghargai apa-apa yang sudah beliau lakukan untuk bangsa ini.


Apa yang telah dilakukan oleh anak dan menantu Jokowi tersebut merupakan satu contoh yang perlu kita ikuti. Tanpa sadar, saat ini terutama bagi kita yang hidup di perkotaan sudah sangat jauh dari pola hidup sederhana. Terbiasa konsumtif, dan merasa mampu sehingga enggan membeli atau menggunakan barang-barang yang  "biasa". Yang lebih parah, malah ada sebagian dari kita yang memaksakan mengikuti gaya hidup yang tinggi sampai rela terlilit utang sana-sini.


Bagi saya, hal ini benar-benar menjadi sebuah pembelajaran. Pembelajaran untuk hidup lebih sederhana dan saling menghargai sesama. Jangan pernah menilai siapa orangnya, selama itu adalah perilaku yang baik maka berpikirlah positif dan paparkanlah dalam kehidupan kita. Karena semua perubahan berawal dari diri kita sendiri, dan sesuatu yang besar tentu berasal dari yang kecil.
(Cerita ini dikirim oleh Nazma Alnaira, Bekasi).