Mahasiswa Indonesia dalam Khatulistiwa Gerakannya
- U-Report
Kampus sebagai tempat belajar Mahasiswa sampai saat ini masih dianggap sebagai benteng moral bangsa yang masih obyektif dan ilmiah. Mahasiswa sebagai agen perubahahan (Agen of Change) seringkali menjadi pemicu dan pemacu perubahan-perubahan dalam masyarakat. Perubahan-perubahan yang di inisiasi oleh mahasiswa terjadi dalam bentuk teoritis maupun praktis.
Indonesia salah satu barometer gerakan mahasiswa negara lainnya. Bagaimana tidak, begitu banyak kontribusi aktivis mahasiswa Indonesia, pada masa penggulingan orde baru hingga gerakannya yang menggaung sampai hari ini.
Tanpa kita sadari aktivitas kegiatan kemahasiswaan di Indonesia secara umum telah lama memiliki potensi kemajuan yang signifikan. Hal ini dapat di lihat dari berbagai lembaga kemahasiswaan baik di internal maupun eksternal kampus yang mendulang berbagai macam prestasi. Tentu hal ini tidak luput dari kerja keras dan kefokusan aktivis mahasiswa yang aktif berorganisasi, sehingga setidaknya mampu membawa nama baik kampusnya.
Hal tersebut merupakan dorongan mahasiswa untuk menggali dan mengembangkan potensinya di luar akademik. Menyadari juga akan tugas dan peran mahasiswa yakni sebagai Agen of Change, Agen of Social Control dan lain sebagainya. Inilah yang menjadikan alternatif organisasi sebagai wadah pengembanan akan hal tersebut.
Mahasiswa Indonesia dalam Khatulistiwa Akademik
Menakar aktivitas mahasiswa dalam organisasi, lalu bagaimana dengan akademik aktivis mahasiswa Indonesia hari ini. Kenyamanan dalam menjalankan hiruk pikuk berorganisasi menjadikan keasikan tersendiri bagi mahasiswa sehingga mahasiswa sering lupa akan tugas kewajiban sebagai mahasiswa yakni akademik. Hal ini menjawab fakta yang nyata bahwa sebagian mahasiswa yang aktif berorganisasi cenderung lama wisuda. Mengapa demikian?
Anggapan yang salah diartikan saat ini mengenai persepsi peran mahasiswa itu sendiri, sehingga mahasiswa ternyenyak tidur dalam organisasi. Akan tetapi harus diakui banyak juga yang berprestasi baik di akademik maupun non akademik, bahkan mampu mencapai peringkat yang cukup memuas. Banyak sekali aktivis mahasiswa mendulang prestasi sehingga mampu menghantarkan mereka keranah leluasaan dalam cakrawala berfikir, meraih beasiswa prestasi seperti PPA, Beasiswa Djarum, dll.
Lalu bagaimanakah mahasiswa yang ideal? Ya, sosok mahasiswa ideal secara singkat dapat dirangkum dalam tiga kata, yaitu berprestasi, berorganisasi, dan berbudi pekerti. Di luar ketiga hal di atas ada satu hal yang sudah pasti harus dimiliki, yaitu berpribadi religius. Religiusitas ini tidak perlu disebut lagi, karena hakikatnya merupakan dasar dari inspirasi dan motivasi ketiga hal tadi. Dengan kata lain, prestasi, keaktifan dalam organisasi dan budi pekerti, tidak akan berarti tanpa di landasi oleh nilai-nilai religi.
Ketiga kriteria ini hakikatnya tidak terpisahkan bagi keberhasilan hidup mahasiswa di masa depan. Kaitan ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut: prestasi mengantarkan lulus seleksi dalam mendapatkan pekerjaan; pengalaman organisasi menjadikan sukses melaksanakan pekerjaan; dan budi pekerti membuat diterima dalam setiap pergaulan.
Dalam ungkapan lain dinyatakan, prestasi menjadikan orang bisa melewati soal ujian; pengalaman organisasi menjadikan orang bisa melewati tantangan permasalahan; dan budi pekerti menjadikan orang bisa melewati penolakan dan permusuhan.
Inti dari prestasi adalah pencapaian standar nilai yang tinggi dalam menyelesaikan perkuliahan. Prestasi mencerminkan penguasaan seseorang terhadap sejumlah pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan dan diujikan kepadanya. Prestasi mahasiswa disimbolkan dengan nilai atau indeks prestasi (IP).
Secara singkat, mahasiswa yang berprestasi adalah yang memiliki IP yang tinggi. Prestasi dalam makna IP ini menjadi pertimbangan awal bagi seorang lulusan ketika melamar suatu pekerjaan. Baru kemudian hasil ujian tulis, wawancara, uji kompetensi, dan sebagainya. Apabila prestasi rendah, maka biasanya sejak awal seorang calon pelamar sudah tersingkir atau tidak diperhatikan.
Pengalaman berorganisasi memberikan bekal kepada lulusan perguruan tinggi dalam berbagai hal, antara lain: kemampuan berinteraksi, kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir logis-sistematis, kemampuan menyampaikan gagasan di muka umum, kemampuan melaksanakan fungsi manajemen: perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi, kemampuan memimpin, serta kemampuan memecahkan permasalahan. Dengan pengalaman dan kemampuan yang terbentuk ini, maka seorang aktivis ketika memasuki dunia kerja akan lebih tanggap, terampil, cekatan, dan mampu menyesuaikan dengan keadaan.