Seberapa Efektifkah Kebijakan Kantong Plastik Berbayar?

Ilustrasi
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

VIVA.co.id – Kebijakan yang sedang marak digalangkan saat ini salahsatunya adalah kebijakan mengenai kantong plastik berbayar. Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama kalau mulai saat ini jika kita berbelanja di toko-toko ritel modern khususnya, maka kita akan dikenakan biaya sebesar Rp200 untuk satu kantong plastik yang kita gunakan.

Tentu saja ada tujuan yang sangat baik dibalik kebijakan ini. Semakin besarnya penggunaan kantong plastik membuat limbah plastik yang sulit terurai ini semakin meningkat. Dengan adanya konsekuensi dengan mengeluarkan uang untuk setiap kantong plastik, diharapkan penggunaannya akan semakin berkurang di kalangan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah kebijakan ini efektif?

Sebagai masyarakat awam, saya sangat mendukung gerakan diet kantong plastik ini, karena saya termasuk pecinta lingkungan sehat. Tapi baru beberapa hari kebijakan ini berlaku, saya sudah merasakan kekecewaan karena kejadian yang saya alami. Sepertinya tujuan untuk mengurangi sampah plastik melalui kebijakan ini mulai menyimpang. Sosialisasi gerakan diet kantong plastik ini menurut saya masih sangat kurang. Jangankan untuk dimengerti oleh masyarakat Indonesia yang sangat beragam, oleh para pramuniaga toko ritel yang jelas-jelas bekerjasama untuk menjalankan kebijakan ini saja masih belum dipahami.

Sebagai contoh, kemarin Selasa (23/2) malam, saya pergi berbelanja ke sebuah minimarket yang pada saat itu hanya membeli sebuah sabun pembersih wajah dengan ukuran sangat kecil. Sesampainya di depan kasir, dengan santainya si mbak langsung mengambil kantong plastik dan memasukkan barang belanjaan saya ke dalamnya. Jujur, saya langsung heran. Bukankah gerakan diet kantong plastik sudah mulai dilakukan, dan kalau saya tidak salah pemerintah bahkan bekerjasama dengan toko-toko ritel modern untuk menjalankan kebijakan ini.

Si Mbak langsung menyebutkan harga yang saya harus bayar. Total harga tersebut tentu saja sudah ditambahkan Rp200 untuk kantong plastiknya. Saya masih menunggu dia menjelaskan masalah kantong plastik yang harus saya bayar. Tapi tidak, ternyata si Mbak hanya mengulang jumlah harga yang harus saya bayar sambil menunggu saya memberikan uang.

Entah kenapa saya merasa sangat marah. Bagaimana gerakan ini mau berhasil kalau caranya seperti ini. Kantong-kantong plastik akan tetap beredar, sampah plastik akan tetap menumpuk, dan masyarakat juga harus rela membayar untuk itu semua?

Saya mulai bertanya, "Mbak, ini plastiknya sudah mulai berbayar?". Si Mbak hanya menjawab singkat, "Iya, bu." Saya geleng-geleng kepala. Barang yang saya beli sangat kecil, dapat saya genggam, apalagi saat itu tas saya masih cukup besar untuk memasukkannya, bahkan tiga jenis sabun pun masih muat. Kenapa si mbak dengan gampangnya memberikan kantong plastik itu kepada saya?

"Mbak, sabunnya saya masukkan ke dalam tas saja tidak usah pakai kantong plastik," ujar saya. "Oh, iya bu," jawab si Mbak dengan ketus, sambil cemberut mengoreksi mesin registernya. Mungkin dalam benaknya berpikir kalau pelit banget si Ibu ini, Rp200 saja tidak mau bayar.

Sebenarnya masalah bukan terletak di Rp200-nya. Tapi sepertinya tujuan dari gerakan ini dilakukan sudah berbeda. Dari sikap si pramuniaga jelas-jelas terlihat tidak ada upaya menyukseskan kebijakan ini. Yang mereka tahu kalau sekarang setiap pembeli harus dikenakan biaya tambahan untuk kantong plastik. Harusnya jika memang toko-toko ritel ini serius ingin menyukseskan gerakan ini, mereka harus menegaskan kepada para pramuniaganya untuk memperketat penggunaan kantong plastik.

Sebagai baris terdepan, pramuniaga harusnya mengingatkan kepada para pembelinya sebelum memberikan kantong plastik kepada mereka. Misalnya dengan menanyakan terlebih dahulu apakah mereka membawa kantong sendiri, atau apa mereka mau memasukkan barang belanjanya ke dalam tas mereka sebelum memutuskan untuk memberikan kantong plastik. Dengan begitu mungkin kebijakan ini akan lebih efektif.

Kalau ini  malah sebaliknya. Kita tidak mau pakai kantong plastik malah dipandang nyinyir, dicemberutin, dan sudah pasti dianggap pelit sama si Mbak pramuniaga. Giliran kita bawa kantong sendiri, ehh malah dibilang tidak mau rugi. Padahal maksudnya ingin menyukseskan gerakan ini. Semoga hanya beberapa pramuniaga saja yang bersikap begitu.

Saran saya, harusnya kerjasama dengan toko-toko ritel ini harus lebih ditekankan tujuan awalnya apa. Gerakan ini dilakukan bukan untuk menambah pemasukan dari uang hasil kantong plastik, tapi untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Walaupun dikatakan uang tersebut digunakan untuk edukasi lingkungan, tapi tetap tujuan utama yaitu untuk mengurangi limbah plastik harus lebih ditekankan. Harus ada edukasi yang jelas terutama kepada pihak yang langsung berhubungan dengan pengguna atau customer, jadi pencapaiannya juga maksimal.

Jangan sampai tujuan kebijakan tidak tercapai, tapi masyarakat malah harus bayar. Masyarakat itu sangat beragam dan tidak semua tahu mengenai hal ini. Ada sebagian yang ketika dibilang harus bayar Rp200 untuk kantongnya, ya, bayar-bayar saja toh hanya Rp200. Tidak tahu maksud dari kebijakan berbayar ini untuk apa. Sedangkan sang pramuniaga yang harusnya memperketat pengeluaran kantong plastik, hanya diam saja dan terus memberikan kantong-kantong itu kepada pembelinya. (Tulisan ini dikirim oleh Nazma Alnaira, Bekasi)