Aku yang Selalu Dianggap Remeh
Ingin rasanya aku meminta modal pada kedua orangtuaku. Namun, ketika aku melihat betapa egoisnya mereka dengan apa yang mereka kehendaki atas aku, aku jadi urung meminta. Bukannya tidak berbakti kepada mereka, aku rasa aku sudah cukup berbakti pada mereka. Sampai-sampai aku merelakan masa mudaku di dunia yang memang bukan dunia yang aku sukai.
Duniaku itu adalah penulis dan agama. Bukan dunia yang penuh dengan kesibukan sebagai seorang engineering, kerja sana, kerja sini, menghitung, menggambar, lalu mendapatkan uang. Yang aku inginkan adalah kesuksesan, bukanlah uang. Aku hanya ingin dikenal banyak orang sebagai orang yang selalu berusaha untuk mewujudkan mimpi yang selama ini aku mimpi-mimpikan.
Aku ingin menjadi orang yang bisa memotivasi orang-orang. Padahal selama ini aku masih selalu termotivasi dari orang-orang yang ada di sekitarku, contohnya Rio Haryanto. Berusaha untuk tampil di F1 dan akhirnya terwujud. Itu semua karena dia selalu berusaha, berdoa, dan diberi dukungan yang besar, terutama fasilitas yang memadai.
Aku? Aku hidup apa adanya, fasilitas yang apa adanya, dan ah rasanya aku jadi sedih ketika menceritakannya pada orang-orang. Cukup aku dan Tuhanlah yang tahu, bukan aku dan sopir bajaj.
Andaikan suatu saat aku dikenal banyak orang, lalu mereka yang enggak pernah mau mendukungku tiba-tiba datang dan berkata, “Itu teman gue, itu teman gue.” “Itu keponakan aku, kerenkan?” Kenapa ketika aku sudah meraih apa yang aku inginkan dengan usaha yang aku lakukan ini mereka baru datang dan mengaku-aku sebagai orang terdekatku?
Yah, baguslah kalau mereka masih mau menerima kehadiranku. Aku berterima kasih karena mereka masih mengingat aku ketika aku sukses sebagai seorang penulis. Aku juga berterima kasih pada mereka yang sudah menganggap semua yang aku lakukan adalah hal yang sia-sia, hal yang bodoh, tolol, dan aneh. Kalau saja mereka tidak menganggap seperti itu, mungkin tulisan ini tidak akan pernah ada. (Tulisan ini dikirim oleh Ridho Adha Arie, Riau)