Aku dan Kacamata
Namun tidak bertahan beberapa lama, aku berhenti memakainya. Hingga akhirnya di kelas 2 SMK semester 2 aku memakai kacamata lagi. Alasannya karena waktu itu aku pacaran dengan seseorang yang memakai kacamata juga. Yang jelas perempuan yaa, bukan laki-laki. Aku tambah merasa yakin berkacamata, apalagi waktu itu sedang magang sehingga aku tidak mendapat fitnah dan tuduhan yang tidak-tidak dari teman-temanku. Senangnya hidupku karena menjadi tidak terlalu tersiksa.
Namun kesenanganku hilang ketika negara api menyerang. Kacamataku pecah saat aku sedang menonton kartun Avatar di laptop. Waduh, mau beli lagi uang tidak ada. Akhirnya, aku berhenti lagi memakai kacamata. Hubunganku dan perempuan berkacamata itu juga sudah berakhir.
Memasuki masa-masa kuliah, aku memulai hidup baru sebagai mahasiswa culun. Culun banget, kalau kata anak alay zaman sekarang “culun beut”. Sampai diejek oleh senior-senior dari semester tiga dan lima. Aneh tapi nyata, aku enggak marah. Namun aku membuktikan kalau aku memang benar-benar culun dan bodoh dengan bersandiwara seperti orang yang terlihat bodoh, polos, dan enggak tahu apa-apa.
Masa-masa kuliahku tidak berlangsung lama. Aku berhenti kuliah karena alasan tertentu, bukan karena malu dibilang culun. Lucu sekali kalau aku berhenti kuliah hanya karena takut dibilang culun. Aku malah senang dibilang culun, ya beginilah aku, apa adanya. Rela diejek-ejek, dihina, dan dikata-katai.
Biarlah orang senang yang penting aku juga senang dengan melihat orang menertawaiku. Sekarang, aku yang memakai kacamata ini dibilang sok bergayalah, sok kegantengan, sok keren, dan ahh.. ya sudahlah. Tidak akan ada habis-habisnya aku menulis semua hal tentang apa yang aku rasakan selama berkacamata ini.
(Tulisan ini dikirim oleh Ridho Adha Arie, Riau)