Kawanan Siput dan Titanic Syndrome

Siput
Sumber :
  • U-Report

Perubahan itu harus disambut dan diatur agar tidak kocar-kacir membombardir ketahanan ekonomi, dunia usaha, dan kebudayaan masyarakat. Perubahan yang telah disiapkan akan memberi keuntungan tersendiri bagi kita. Bila terjadi hal yang terburuk. Kondisinya tidak terlalu lama jatuh dalam jurang kegagalan. Namun cepat bangkit untuk menyongsong era baru yang sama sekali berbeda.

Sayangnya, pejabat-pejabat kita nampaknya terkena Titanic Syndrome. Saya khawatir kisah imaginer yang saya sampaikan di awal adalah fenomena gunung es. Sehingga, seluruh elemen pemegang kebijakan terlampau percaya diri melewati laut ekonomi. Tidak pernah terpikir bila bisa jadi sewaktu-waktu kapal akan jatuh dan robek lambungnya oleh karang yang tidak terduga. Berlayar tanpa tahu arah mana yang harus dituju, kesejahteraan rakyat atau kesejahteraan rumah tangganya sendiri yang diperjuangkan.

Dari sinilah kita semua harus sadar. Mereka para pejabat itu harus diketuk hatinya. Karena saya khawatir rasa ibanya telah tiada. Kita berharap, sejatinya nurani menjadi basis tindakan. Apalagi ketika kita sebagai rakyat sudah memberi kontribusi maksimal untuk pemerintah. Dan memberi makan pejabat dengan pajak yang kita berikan setiap waktu. Bila pajak itu digunakan kampanye pribadi dan hanya menyelamatkan koleganya, mari kita sebut mereka hanyalah sebatas kawanan siput. (Tulisan ini dikirim oleh Dede Qodrat Alwajir, Banten)