Cinta Tak Lekang oleh Waktu
- U-Report
Begitu juga dengan dia hanya bisa menatap. Kara bingung. “Kalian saling kenal?” ujar kepala HRD menyembul dari balik pintu. Kara dengan cepat menjawab, “Tidak Pak.” Tapi matanya masih terpaku kepada sosok pria di depanya. Kara berjalan mendekat dan menyodorkan tanganya untuk menjabat tangan lelaki di depanya. “Kara, Pak, senang menjadi asisten Bapak, saya harap Bapak bisa membimbing saya,” ujar Kara berusaha senyum kembali, lelaki itu menjabat tangan Kara.
Kara hampir saja melepaskanya, bagaimana tidak tangan itu yang selalu membelainya lembut, memeluknya di kala ia sedih, merangkulnya dan memegangnya erat kemanapun mereka pergi, tangan itu sudah hampir menghilang setahun lalu, sekarang tangan itu ia pegang kembali.
Hampir seharian ini mereka tidak saling tegur, hanya saja mata mereka kadang saling menatap dan Kara selalu saja membuang muka. “Ya Tuhan¦ sanggupkah aku setiap hari seperti ini, dengan dia lelaki yang meninggalkan aku demi wanita lain,” ujar Kara dalam batinnya.
“Tunggu aku di depan.” Baru terdengar suaranya, begitu tegas dan membuat Kara salah tingkah. “Aku mau keliling cari kontrakan baru dulu, aku tidak bisa menunggumu,” ucap Kara sambil berkemas. “Aku antar,” ucapnya. Kara tidak bisa berkelit lagi, ia sebenarnya ingin segera pergi dari ruangan itu, ingin menangis dan menghajar samsak isi pasir, ia ingin menghajar sesuatu untuk memuntahkan rasa ini.
Galih, tepatnya nama itu, menariknya ke sebuah kedai kopi di pinggir jalan, mobil yang dikendarainya di parkir di pinggir jalan. Mereka duduk dalam diam.dan dua gelas kopi panas menemani mereka. “Apa kabar wanitamu?” tanya Kara sambil menatapnya sekilas sambil tersenyum kemudian kembali menatap gelas kopi yang ia pegang dan menyeruputnya kepanasan.
Galih hanya tersenyum. “Apa kabar lelakimu?" Galih balik bertanya.”Hmmm, aku masih seperti ini, tanpa ada peningkatan,” Kara tertawa aneh. Yah, memang aneh, pertemuan ini membuatnya down kembali. Membuatnya harus susah payah tersenyum tanpa beban. Kara mengeluarkan sebungkus rokok. Dan menyalakanya. Galih tampak kaget, ia menatap Kara tajam. “Sejak kapan perokok?” Kara tersenyum sambil membuang asap rokok ke atas. “Sejak bulan Juni 2015,”jawab Kara. Ya, saat itu dia terpuruk tanpa lelaki di hadapanya.