Surgamu Berada di dalam Rumahmu Sendiri

Ilustrasi ibu dan anak.
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – Setiap saya pulang ke rumah, ibu selalu memberi tahu kabar terbaru tentang keadaan saudara-saudara, keadaan di rumah, dan cerita lain yang menarik untuk didengarkan. Mungkin karena waktu itu saya masih di pesantren jadi selalu ketinggalan kabar dan kurang tahu tentang informasi terbaru.

Suatu ketika, tepatnya setelah sarapan pagi tiba-tiba ibu saya bercerita tentang masa kecilnya dulu. Sambil mengenakan mukena beliau keluar dari kamar kemudian menceritakan bahwa di zaman dahulu ketika beliau dan ketujuh saudaranya ingin menyantap sarapan pagi, nenek saya hanya menghidangkan sepiring nasi jagung untuk tiap-tiap anak yang berjumlah 8 termasuk ibu saya, dan seiris telur yang dipotong kecil-kecil serta dibagi rata.

Sambil meneteskan air mata, beliau mengingat momen ketika nenek saya membagi rata irisan-irisan telur untuk anak-anaknya. Sungguh malang nasib keluarga ibu kala itu. Melihat ibu yang bercerita sambil menangis, saya juga ikut terharu dan berkata dalam hati, “Mungkin ini pertama kalinya saya melihat ibu bercerita sambil menangis di depan saya.”

Beliau selalu menyayangkan kepergian nenek saya yang meninggal dunia terlalu cepat. Dia merasa belum sempat membahagiakan dan memanjakan nenek saya. Nenek meninggal pada waktu ibu saya masih remaja dan masih belum menikah. Tetapi untungnya setelah menikah dan bekerja, beliau masih bisa membahagiakan kakek saya dengan merawatnya bahkan sampai memberangkatkan haji kakek saya.

Setelah menceritakan hal tersebut kepada saya, beliau kemudian menceritakan juga tentang kisah dua orang bersaudara yang bertikai bahkan sampai dibawa ke pengadilan negeri untuk mendamaikan masalah tersebut. Ternyata masalah dari kedua bersaudara itu adalah untuk menentukan siapa di antara kedua bersaudara tersebut yang sekarang berhak merawat ibu kandung mereka, karena selama 20 tahun si ibu selalu dirawat oleh anak sulungnya.

Setelah proses di pengadilan selesai dan hakim memutuskan bahwa yang berhak merawat si ibu sekarang adalah adiknya atau si bungsu, maka si sulung menerima keputusan itu dengan perasaan yang sangat sedih dan air mata yang bercucuran seakan tak ada henti. Lalu ada seorang dari sahabat si sulung yang mencoba untuk menghibur sambil bertanya, “Mengapa engkau sangat bersedih atas keputusan hakim yang telah memindahkan hak rawat kepada adikmu?” Kemudian si sulung menjawab pertanyaan tersebut dengan tangis terisak, “Iya, saya sangat bersedih karena saya telah kehilangan surga yang selama ini berada di dekat saya.”

Setelah mendengar cerita tersebut, saya hanya duduk termenung dan mengingat-ingat perbuatan-perbuatan yang telah saya lakukan pada beliau. Seringkali ketika dinasihati kadangkala saya tidak mendengarkan, ketika diperintah sering mengabaikan. Mungkin hanya kata maaf yang bisa diungkapkan atas perbuatan-perbuatan tersebut.

Dari cerita tersebut saya hanya bisa memetik suatu pelajaran, bahwa mungkin karena beratnya perjuangan seorang ibu mulai dari melahirkan, merawat, mendidik hingga mengantarkan anaknya pada kesuksesan, maka seorang ibu kemudian memperoleh kedudukan yang lebih mulia daripada ayah di sisi Allah SWT. Bahkan sampai ada kalimat yang sering kita dengar yaitu, “Surga berada di bawah telapak kaki ibu”.

Itu menunjukkan betapa mulianya seorang ibu. Dan apabila kita menginginkan surga maka patuhilah, taatilah apa yang dinasihatkan dan apa saja yang diperintahkan oleh ibu kita selagi beliau masih hidup. Dan tentu saja selama apa yang dinasihatkan dan diperintahkan itu berada dalam jalan yang benar. Jangan pernah menyia-nyiakan keberadaan ibu karena surga sebenarnya berada di dalam rumah kita sendiri. (Tulisan ini dikirim oleh Basori Alwi, Surabaya)