Tiga Dimensi Waktu
VIVA.co.id – Waktu selalu menjadi persoalan klasik bagi setiap orang yang sedang dalam tahap formasi menjadi seorang manusia. Semua orang percaya dan setuju kalau disiplin waktu adalah salah satu cara yang baik untuk menjadi orang yang sukses. Dan pengalaman memang menunjukkan hal demikian.
Setiap orang hidup dengan tiga dimensi waktu sekaligus; masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Akan tetapi, tidak semua orang bisa menghayati tiga dimensi waktu tersebut secara seimbang seperti ketika dia menyeimbangkan berbagai aspek dalam dirinya. Untuk itu, ada beberapa kategori manusia yang bisa dibagi berdasarkan penghayatan tiga dimensi waktu tersebut.
Kategori pertama adalah kategori orang yang sungguh menghayati angan-angan akan masa depannya. Orang seperti ini adalah manusia pemimpi, pengkhayal, pembual, dan suka mengumbar janji (mungkin para caleg bisa masuk dalam golongan ini), tetapi dia penuh optimisme akan hidupnya. Banyak rencana yang dibuat, tetapi hanya sedikit yang terealisasi, bahkan ada yang tidak terealisasi sama sekali hanya karena soal sepele.
Dia tidak menghayati masa lalu dan masa kini-nya. Dalam hal ini, dia terlalu sepakat secara tidak sengaja dengan David Hume, seorang filsuf yang mengajarkan bahwa tidak ada realitas sebab akibat (prinsip kausalitas). Yang ada hanya realitas psikologis atau fakta yang satu hanya sekadar mendahului yang lain. Dia tidak percaya kalau realitas masa lalu dan masa kini perjuangannya yang melewati dua dimensi waktu tersebut, juga turut mempengaruhi mimpi-mimpinya di masa depan.
Kategori orang yang kedua adalah orang yang memegang teguh prinsip “Hidup hanya untuk hari ini.” Praktis, orang seperti ini akan sangat menikmati hari-hari hidupnya, sebab baginya, tidak ada “besok” yang perlu dipikirkan dan tidak ada pengalaman masa lalu yang harus dipelajari. Yang penting adalah hari ini. Dia bukan tipe orang yang hemat, tetapi royal. Orang yang seperti ini akan mudah sekali jatuh ke dalam lubang yang sama atau terantuk di batu yang sama seperti yang kemarin. Orang-orang seperti ini mengerti banyak tentang carpe diem yang konon merujuk pada budaya hedonisme orang Romawi dahulu kala.