Kisah Mang Yanto dan Kios Kecilnya

Mang Yanto di kios kecilnya di Cipete, Jakarta Selatan
Sumber :
  • U-Report

Hari Minggu, 22 Mei 2016, pagi hari saya mampir ke kios Mang Yanto. Sayang kiosnya tutup dan pintu kios digembok. Dari Bang Roda, sopir bajaj yang biasa mangkal dekat kios didapat informasi kalau Mang Yanto sedang ke Rawamangun, menengok istrinya yang juga menjaga kios persis seperti kiosnya yang ada di Cipete. Ya, Mang Yanto dan istrinya punya dua kios. Satu di Cipete yang sering saya sambangi, dan satunya lagi di Rawamangun.

Kios di Cipete yang sering ditunggui Mang Yanto. Namun, Mang Yanto hanya dua bulan sekali menunggui kios. Dua bulan berikutnya giliran yang lain. Sistem aplusan, demikian nama sistem penungguan kios rokok tersebut. Penunggunya banyak berasal dari Kabupaten Kuningan. Pola aplusan sendiri sederhana saja.

Kios rokok biasanya dimiliki oleh dua orang. Modalnya disharing atau dibagi dua. Sistem tunggu kios tergantung kesepakatan. Bisa dua bulan sekali, bisa satu bulan sekali. Untuk kios Mang Yanto, sistem tunggu per dua bulan sekali. Jadi selama dua bulan itu, keuntungan milik Yanto. Nanti, jika waktu tunggu habis, Mang Yanto punya kewajiban merekap barang dan melengkapi semua barang dagangan seperti semula. Selanjutnya giliran tunggu penggantinya. Dengan pengganti Mang Yanto saya juga kenal dekat. Mang Maman namanya. Dia juga satu kampung dengan Mang Yanto, sama-sama asal Kuningan.

Minggu siang, saya kembali mampir. Ternyata Mang Yanto sudah ada di kiosnya. Dan, memang benar dia habis dari Rawamangun, menengok istrinya. Dia ke sana dengan menggowes sepeda, biar ngirit katanya. Padahal jarak dari Cipete ke Rawamangun menurut saya sangat jauh.

Siang itu Mang Yanto bersiap hendak makan siang. Lauknya sayur asem dan ikan teri, plus tempe dan sambal. Kata dia, istrinya yang masak. Dia sempat menawarkan saya. Tapi karena sudah makan, saya menolaknya. Saya hanya pesan kopi hitam.

Mang Yanto selalu membawa beras dari kampung. Beras dari hasil panen sawahnya. Ya, di kampung jika tak sedang kebagian berdagang, Mang Yanto menjadi petani. Bawa beras katanya biar ngirit. Jadi, tinggal beli lauknya dari warung Tegal.