Bijaklah Bersosial Media di Bulan Ramadan Ini

Salah satu kegiatanku di bulan Ramadan.
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – Pada zaman Nabi Muhammad SAW, Alquran tidak diperbolehkan untuk ditulis melainkan hanya dihafalkan saja di luar kepala. Baik oleh Nabi Muhammad sendiri maupun sahabat-sahabatnya. Sementara itu, untuk menjaga kemurnian Alquran, setiap malam di bulan Ramadan malaikat Jibril turun ke bumi dan membacakan ayat-ayat Alquran tersebut dan Nabi Muhammad mendengarkannya dengan seksama.

Nabi Muhammad sendiri melarang penulisan Alquran ini dalam media apapun dalam satu kesatuan. Itulah sesuatu yang spesial untuk diri kita. Bersyukur dalam bentuk mengoptimalkan apapun yang sudah diberikan Tuhan pada kita. Segala kekuatan, anugerah, kemampuan yang diberikan Tuhan harus dimaksimalkan. Karena itu adalah bentuk syukur kita pada Tuhan. Oleh karena itu, kita perlu membuat sebuah pedoman hidup sebagai kompas hidup kita untuk mencapai kesuksesan akhirat.

Tapi ada sebuah kutipan yang saya ambil dari buku berjudul “ON” karya Jamil Azzaini. Kutipan ini untuk dapat kita renungkan kalau seandainya Alquran dapat membuat surat dan mengirimkannya kepada kita. Astaghfirullah, saya pribadi merinding membayangkannya, apalagi di bulan Ramadan ini. Surat dari Alquran itu berisi:

“Aku sangat merindukanmu, mungkinkah rinduku terbalas? Dulu kau sering mendatangiku dan menciumku. Kini kau tempatkan aku di tempat yang nyaman, namun itu menyiksaku karena kau jarang bercengkerama denganku. Kau lebih sibuk berlama-lama dengan ipad dan BB-mu. Aku benar-benar sangat iri dengan Ipad dan BB-mu. Ke mana pun kau pergi, mereka selalu kau bawa. Saat di rumah pun kau asyik dan rela berlama-lama dengan mereka berdua. Sementara aku, tetap kau abaikan.

Padahal sibuk di depan ipad dan BB-mu belum tentu memberi manfaat dan berpahala. Ketahuilah, saat kau bercengkarma denganku, setiap hurufku memberi satu kebaikan dan memberikan 10 kali lipat pahala, walau mungkin kau tak tahu maknanya. Bahkan, saat kau terbata-bata untuk berucap, kau justru mendapat dua pahala. Pahala membacaku dan pahala karena kau kesulitan mengucapkannya.

Siapa yang berpegang teguh kepadaku, ia tak akan tersesat. Tapi mengapa kau merasa tak bersalah saat jarang menyapaku? Kau malu bila belum membaca buku atau novel best seller, tapi mengapa kau tak merasa malu sedikit pun belum selesai membacaku? Aku ada bukan untuk kau simpan di lemarimu, tetapi seharusnya kau simpan di hatimu. Tapi bagaimana mungkin aku bersemayam di hatimu, bila kau jarang membacaku?

Aku dipelajari bukan hanya ketika kau kecil, tetapi seharusnya setiap waktu. Mengapa? Karena aku ini pedoman hidupmu. Aku bukanlah mainan yang hanya kau baca saat kau kecil. Aku ada juga bukan hanya sekeaar menjadi mas kawin saat kau menikah. Bukan pula hanya untuk kau ingat saat ada kematian di keluargamu. Mengapa hidupmu kacau? Mengapa kau sering jenuh? Mengapa hidupmu sering gelisah? Mengapa kau sering berani berbuat maksiat? Mengapa kau tak banyak mengerti ketentuan Tuhanmu? Itu karena kau jarang bercengkrama denganku. Demikianlah surat untukmu, semoga kau mengerti keluhan dan deritaku. Aku ingin kau manjakan seperti Ipad dan BB-mu. Yang rindu kepadamu, kitab sucimu.

Pada masa informasi seperti sekarang ini, ditambah dengan maraknya sosial media yang dibenamkan dalam setiap yang kita punya terkadang membuat kita lalai dan terbuai untuk beribadah kepada Allah SWT. Kita dibuat asyik bercengkerama dengan sosial media yang kita punya, sampai kita melupakan Alquran untuk dipelajari di bulan Ramadan ini. Apalagi kita orang-orang yang punya banyak  sosial media yang aktif, Hampir tiap detik tanpa disadari pasti selalu ada notifikasi.

Saya bahkan pernah menemukan orang yang aktif dengan seabrek akun sosial medianya, baik itu facebook, twitter, blog, instagram, BBM, line, kakao talk, wechat, whatsapp, dll. Dari pagi sampai sore ia selalu aktif, update status, upload foto, komen-komen, dan sebagainya. Saya tidak memungkiri kalau sosial media pada masa sekarang itu penting, bahkan sudah sangat melekat dalam diri kita. Saya juga tidak melarang menggunakan akun yang kita punya untuk bersosial media. Tapi alangkah baiknya jika kita juga harus arif dan tidak berlebihan dalam menggunakan itu semua di bulan Ramadan ini. Fokuslah untuk beribadah kepada Allah SWT selagi masih diberikan kesempatan dipertemukan di bulan Ramadan ini.

Coba bayangkan, seandainya yang dibuka tiap menit itu Alquran, yang dibaca tiap menit itu Alquran, dan yang dibawa kemana-mana itu Alquran, maka sudah berapa pahala kebaikan yang bisa kita dapatkan di bulan Ramadan ini? Sebagai seorang Muslim, harusnya ada skala prioritas yang kita dahulukan, mana aktivitas yang bernilai ibadah dan mana aktivitas yang bernilai sia-sia. Kalau dibandingkan tentunya pasti akan lebih baik kalau kita disibukkan dengan baca Alquran daripada kita disibukkan dengan facebook-an.

Semoga hati nurani kita bisa menerima, yang baik itu memang baik dan yang tidak baik itu memang tidak baik. Buat teman-teman yang punya smartphone, tablet, dan laptop yang di dalamnya ada sosial medianya, mari sama-sama kita perbaiki diri di bulan Ramadan, selagi kita masih dipertemukan dengannya. Kita atur lagi aktivitas mana yang membawa kita kepada kebaikan dan mana aktivitas yang bisa membawa kita pada kelalaian dan kehancuran.

Silahkan bersosial media, tetapi lakukanlah sewajarnya. Saya kira kalau kita tidak bersosial media kita masih bisa hidup dan kita juga tidak akan disiksa dalam neraka. Tapi kalau kita lalai sampai tidak salat, lalai sampai tidak baca Alquran gara-gara aktivitas di sosial media yang kita punya, maka alangkah celaka dan meruginya diri kita.

Bulan Ramadan memiliki keutamaan dan keistimewaan yang besar. Semua amal saleh yang dilakukan pada bulan ini akan mendapat balasan lebih banyak dan lebih baik. Oleh karena itu, kita sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal kebajikan dan meninggalkan kemaksiatan. (Tulisan ini dikirim oleh La Erwin Hi.Mutalib, mahasiswa keperawatan UMI Makassar)