Anak Indonesia Darurat Kehangatan Keluarga

Ilustrasi keluarga.
Sumber :
  • U-Report

Ketika akhirnya hal buruk terjadi pada anak dan anak mencari penghiburan di luar dengan cara yang salah. Terjebak di lingkungan yang salah yang mengagung-agungkan pergaulan bebas, gaya hidup hedonisme, menganggap menghisap narkoba adalah hal yang nge-tren dan hal-hal negatif lainnya. Orang tua hanya  bisa saling menyalahkan. Ini menjadi pelajaran bagi saya.

Pada dasarnya kebutuhan dasar seorang manusia adalah ingin didengarkan. Seorang anak yang belum mempunyai kemampuan untuk mengungkapkan perasaannya akan mencari perhatian dengan cara mereka sendiri. Bagi orang dewasa hal itu dianggap sangat mengganggu.

Padahal kita, khususnya sebagai orang dewasa tidak memahami akan kebutuhan mereka untuk didengarkan. Anak-anak itu akan dianggap sebagai seorang pemberontak, karena orang-orang dewasa sekitarnya belum memahami kebutuhan mereka.

Anak-anak itu yang nantinya akan menjadi seorang ayah atau ibu di masa depan hanya butuh didengarkan, diarahkan agar nantinya luka batin mereka ketika mereka kecil tidak terulang lagi ke generasi selanjutnya. Dalam bahasa saya, saya mengatakan “memutus lingkaran setan”.

Di koran-koran nasional dan situs berita online banyak ditulis, ”Indonesia darurat pelecehan dan kekerasan seksual” di headline beritanya. Padahal seharusnya, “Anak Indonesia darurat kehangatan dalam keluarga”, itu menurut pendapat saya.

Marilah kita bersama selaku orang dewasa yang nantinya akan menjadi calon orang tua, sudah menjadi orang tua, atau menjelang sepuh, mendengarkan, mengarahkan dan menjaga anak-anak yang nantinya menjadi generasi masa depan untuk siap berkompetisi.

Bukan hanya kecerdasan otak saja yang mereka miliki tetapi kecerdasan spiritual mereka juga harus diasah. Sehingga anak-anak itu akan menjadi pribadi tangguh yang berjalan sesuai tuntunan Tuhannya, Sang Pemberi Hidup. (Tulisan ini dikirim oleh Yanthy Chan)