Berkat Pemudik Rezeki Warga Pati Melimpah

Mobil dan motor pemudik memacetkan seputar alun-alun kota Pati. (HCA)
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – Luar biasa. Sejak Jumat siang 1 Juli 2016, puluhan sampai ratusan motor dan mobil pemudik melintasi Pati, kota kecil di kawasan Pantura Jawa Tengah. Para pemudik itu berasal dari Jakarta, Jawa Barat, dan daerah lokal Jawa Tengah bagian Barat atau Selatan. Diperkirakan, hingga tiga hari ke depan, sampai sehari sebelum Lebaran, kendaraan yang melintas Pati jumlahnya akan semakin bertambah.

Menjelang buka puasa, kendaraan pemudik selain kian banyak jumlahnya, juga berbarengan mencari tempat istirahat di seputar Alun-alun Simpang Lima, pusat Kota Pati. Di lokasi ini terdapat Masjid Agung Pati dan merupakan pusat jajanan/makanan-minuman yang digelar para pedagang kaki lima.

Para pemudik bisa melaksanakan salat Magrib, setelah itu mencari makanan-minuman untuk berbuka puasa. Warga Pati menyambut gembira kehadiran saudara-saudara pemudik. Sebab ini merupakan limpahan rezeki, terutama bagi warga yang membuka usaha di sentral Kota Pati tersebut. Para tukang parkir misalnya, meraup keuntungan tak tanggung-tanggung. Tarif normal parkir mobil Rp 2000 dan motor Rp 1000, naik menjadi Rp 5000 dan Rp 2500. Warga lokal banyak membatalkan parkir karena kenaikan tarif itu.

Makanan dan minuman, serta-merta juga dinaikan oleh para pedagang. Menu khas daerah Pati Nasi Gandul dari Rp 7500 menjadi Rp 15000/porsi. Bakso Rp 7500 menjadi Rp 12500/mangkuk. Mie Ayam Rp 10000 menjadi Rp 15.000/porsi. Jajanan khas Puthu dari Rp 1000 menjadi Rp 1500/buah. Aneka jajanan gorengan Rp 750 menjadi Rp 1500/buah. Bahkan, es kelapa muda dari harga Rp 5000 menjadi Rp 15000/gelas.

Meski semua naik, tapi kendaraan pemudik tetap berusaha parkir di seputar Alun-alun. Kemacetan terjadi di kompleks Simpang Lima. Para tukang parkir kewalahan mengatur. Sementara para pedagang kaki lima yang menjajakan makanan dan minuman sangat sibuk meladeni para pembeli yang merubungnya. Rezeki berupa keuntungan besar membayang pada raut para pedagang. Tahun depan momen seperti ini pasti akan berulang lagi. (Tulisan ini dikirim oleh Heru Christiyono Amari, Pati, Jawa Tengah)