Aku, Istri yang Tak Pernah Kau Anggap

Ilustrasi
Sumber :
  • U-Report

Kini, aku lelah bersuami denganmu! Aku perempuan, hatiku tidak sekuat hatimu begitu kau lontarkan kata-kata sesinis apapun. Bukan kemauanku kita belum memiliki keturunan di usia perkawinan kita ini. Kau bahkan tidak lagi memelukku semenjak waktumu habis bersama teman-teman lajangmu. Apa mereka pernah tahu kau sudah menikah? Kurasa mereka paham, atau memang mereka membiarkan.

Teman hidupmu bukan lagi mereka setelah kau menikahiku. Mana ada teman membiarkanmu berkeliaran di luar rumah tiap malam, sedangkan mereka tahu kau sudah beristri? “Bicarakan baik-baik dengan suamimu,” ujar ibu ketika melihat sendu di wajahku. Rumah kita memang terpisah dengan keluargaku, tetapi naluri Ibu seperti tahu resah dan gelisah anaknya.

Ibu datang ke rumah pagi itu, saat kau sudah menghilang entah ke mana tujuan dan akan pulang makan siang. “Bicara apa? Kami baik-baik saja, Bu!” elakku. “Kamu bilang baik? Jangan bohongi Ibu!” Aku seperti telah divonis bersalah karena laki-laki yang kusebut suami. Bahkan Ibu, menjadikanku sebagai pelampiasan hubungan kami yang tak harmonis.

“Dia sering tidak di rumah, Bu!” ucapku. “Dia kan bekerja!” ujar ibuku. “Dia tidak bekerja!” jawabku lagi. ”Mana mungkin tidak bekerja, dia cari nafkah untukmu!” ibu kembali berujar. “Dia bersama teman-temannya, Bu!” sanggahku lelah. “Kamu tahu dari mana?” ucap ibu. “Dia katakan sendiri padaku. Ibu tunggulah jika tidak percaya apa yang dia bawa pulang siang nanti. Dia hanya bawa diri lalu membentakku jika tidak ada makanan enak di atas meja makan!” ucapku lirih.

“Sesekali tidak masalah dia bersama temannya!” ibu masih membelanya. “Tidak hanya sekali, berulang kali! Aku istrinya bukan teman laki-lakinya itu! Ibu tahu? Tidak pernah lagi dia menemaniku ke mana-mana, setiap kuajak selalu saja alasan tak punya anak keluar dari mulutnya!” Ibu terdiam. Raut wajahnya sulit kutafsirkan. “Aku tidak meminta ini, Bu! Bukan kemauanku kami tidak memiliki keturunan sampai sekarang. Tetapi dia, menghakimiku seperti hanya aku seorang diri dalam keluarga kami. Dan dia, keluyuran di luar rumah tak kenal waktu tidak pernah kupersoalkan. “Benarkah dia bersama teman laki-lakinya? Apakah dia sudah punya perempuan lain? Apakah dia tidak menghargaiku lagi sebagai istri?” Ibu masih diam.