Menjadi Koruptor, Profesi Idaman?

aksi unjuk rasa korupsi penjualan aset negara
Sumber :
  • VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar

VIVA.co.id - Korupsi  ada karena sesuap nasi atau ambisi, tapi bukan ajang cari sensasi. Caranya berebut kursi, katanya untuk beri solusi, tahunya hanya bikin budaya terdekadensi dan negeri terdegradasi. Gayanya membagi konsumsi, ternyata hanya agar tak terdeteksi oleh KPK dan polisi atau berlindung dengan cara berkoalisi. Si selanjutnya, ”siapa yang mau merekonstruksi?” Jawabnya, “Iya, kita sebagai generasi yang tak terkontaminasi jadi degenerasi.”

Orasi singkat saya yang lahir dari kegelisahan meratapi hiruk pikuknya negeri ini. Itu semua adalah gambaran singkat mengenai sudut pandang saya tentang  koruptor yang sudah mulai menjadi profesi. Makanya jangan sampai tercengang,  jika dalam film yang berjudul “Lucunya Negeri Ini”, beberapa pencopet cilik ingin menjadi koruptur. Seseorang yang ketika tertangkap masih bisa nyaman narsis di media, dan tidur di hotel neraka. Kita bisa melihat dengan santainya mereka tersenyum dan mengatakan, “Saya tidak bersalah.”

Perbincangan mengenai korupsi tidak akan pernah habis dan basi di telinga setiap orang. Korupsi masih menjadi tema menarik di berbagai program televisi, dari mulai yang berisi candaan belaka seperti Indonesia Lawak Klub atau Stand UP Comedy, sampai yang serius seperti Mata Najwa, dan sebagainya. Karena korupsi bisa dikatakan materi atau tema wajib sepanjang tahun dan sangat sulit untuk mencapai puncak kebosanan bagi para penonton. Ini menunjukkan bahwa masalah tersebut sangat populer dan melekat dengan Indonesia layaknya sudah seperti menjadi budaya.

Sekolah adalah sarana pendidikan yang seharusnya menjadi tempat terbaik bagi para penerus bangsa. Tapi kenapa tempat yang katanya edukatif tersebut malah sering menyajikan ruang praktik untuk belajar korupsi. Terutama terjadi pada jenjang perkuliahan. Bukan berarti jenjang yang di bawahnya tidak ada. Ada, tapi dengan skala yang lebih minim saja.

Banyaknya organisasi di kampus yang seharusnya mencetak insan yang organisatoris dan siap terjun ke masyarakat, tapi perkembangan hidup yang bersamaan dengan adanya kesempatan dan didikan dari senioritas dapat membuat dunia pendidikan bisa menjadi tempat praktikum untuk mencetak para koruptor baru.

Bagi mereka yang sudah tertangkap basah, masih saja  malu-malu kucing untuk mengakuinya. Padahal komedian asal Surabaya, Cak Lontong, dalam salah satu pementasannya memperkenalkan bahwa ia seorang koruptor. Meski hanya candaan belaka untuk menyindir orang yang korupsi. Cak Lontong pernah juga menyampaikan sindirannya dengan cara memplesetkan peribahasa. “Maling teriak, maling lain dengar tidak?”

Ungkapan Cak Lontong yang menggambarkan bahwa para koruptor yang belum tertangkap tak peduli terhadap penangkapan. Malah masih terus berlanjut dengan cara liciknya yang sembunyi-sembunyi. Mereka tidak pernah berpikir bahwa tindakannya sangat merugikan rakyat.

Jika para pejabat tidak malu atas apa yang sudah dilakukannya (korupsi). Saya pun tidak akan pernah malu untuk korupsi. Dan akan saya tanamkan pada diri saya untuk memiliki impian atau berprofesi sebagai koruptor, kalau dengan menjadi koruptor saya bisa menjadi mampu menyejahterakan rakyat dan membuat negeri ini bisa lebih maju. (Tulisan ini dikirim oleh Syahid Mujtahidy, Pamekasan)