Like Father Like Son
- Corbis
Jadi ceritanya begini. Saya dan kakak saya jarang sekali bawa kunci rumah sendiri. Kalau saya malah tidak pernah bawa sama sekali. Hal itu yang membuat saya kalau pulangnya kemalaman jadi enggak enak sama ayah. Soalnya ayah saya pasti nungguin, dan dia yang akan bukain pintu gerbangnya.
Di suatu kesempatan, kakak saya sedang lembur di kantornya. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan tanda-tandanya dia bakal pulang jam 12-an. Saat saya lagi asyik di depan laptop, sedang mengerjakan sebuah project, ayah saya sedang berada di bawah, tepatnya di ruang tamu dan sedang membaca kitab suci sambil menunggu kakak saya pulang. Tidak lama, ayah saya memanggil saya dan meminjam iPod saya. Ayah saya biasanya suka dengar lagu-lagu gospel dan sengaja saya isi iPod saya dengan lagu-lagu gospel itu.
Saya pun kembali sibuk browsing-browsing berita di internet. Saya yang kebetulan suka banget baca soal urban legend, kebetulan ketemu artikel menarik soal urban legend di Jepang. Artikelnya lumayan seram, karena ada foto dan videonya juga. Saya agak ngeri juga sih pas lagi baca. Tapi mengingat ada ayah saya di bawah, jadi saya sedikit merasa tenang.
Ketika sedang asyik baca-baca soal hantu muka polos yang menjadi legenda di Jepang, tiba-tiba terdengar suara, "Tuhhhaaan, Tuhhaaaan, lindddunggi akkku". Sumpah, suaranya seram banget! Kalian pernah enggak nonton film Kuntilanak yang diperanin Julie Estelle? Nah, di situ ada adegan saat dia nyanyi lagu kejawen buat manggil Kuntilanak yang nyeremin itu. Dan sekarang, yang saya dengar jauh lebih seram dari lagu pemanggil kuntilanak itu!
Sudah di layar laptop saya lagi mutar video hantu muka polos di Jepang, eh ditambah pula ada yang nyanyi lagu hantu. Lutut saya mendadak kaku, saya langsung lari secepat si Buta dari Goa Hantu waktu lagi nyari makan. Saya pun lari menuju ke ayah saya. Tapi, baru setengah berlari, saya lihat ayah saya sedang tiduran. Matanya merem, di kupingnya nempel earphone iPod, dan ayah saya dengan polosnya sedang nyanyi. Mungkin saking enaknya, dia enggak sadar kalau dia menyanyi terlalu keras.
Jadi, ini suara ayah saya? Jadi, selama 23 tahun saya mencari, ternyata seperti ini suara ayah saya? Pilihan saya ada dua. Saya colek terus bilang jangan keras-keras nyanyinya, atau saya diemin saja dengan risiko saya harus mendengar lagu pemanggil kuntilanak itu lagi.
Saya angkat iPod itu, dan saya lihat lagu apa yang lagi didengarkan ayah saya itu. Ternyata, ayah saya lagi mendengarkan lagu “Tuhan Penolongku”. Tapi setahu saya, lagu itu dengan apa yang ayah saya nyanyikan kok enggak ada mirip-miripnya ya. Nada dan baitnya kok enggak ada yang pas, apalagi liriknya. Waduh!
Dan, diam menjadi solusi terbaik buat saya. Nyuruh ayah saya berhenti menyanyi, saya malah jadi ada perasaan segan menjurus malu buat negur. Dalam hati, “Hhmmm, jadi begini toh suara ayah saya.” Dan akhirnya, sekarang saya pun tahu suara 'keren' saya ini turunan dari siapa. (Cerita ini dikirim oleh Stefanus Sani, Bandung)