Indahnya Persahabatan
- U-Report
Jam terakhir ini pelajaran bahasa Inggris. Gurunya sudah datang. Bu Erni adalah guru yang tegas dan disiplin. Ia selalu ingin murid-muridnya memperhatikan dengan baik saat ia sedang menerangkan pelajaran. Tak berapa lama ia lalu menelorkan pertanyaan-pertanyaan. Aku bisa menjawab pertanyaan pertama. Terdengar ada yang mendeham di belakangku. Aku lantas diam.
Pertanyaan ketiga aku menjawab lagi. Terdengar ada yang tertawa cekikikan. Bu Erni bertanya, “Resti, apa yang lucu? Kenapa tertawa-tawa?” protes bu guru dengan suara lantang. Resti tertunduk. “Ayo kamu ke depan dan tulislah sebuah karangan pendek tentang sekolahmu dalam bahasa Inggris,” perintah Bu Erni. Dengan ragu-ragu Resti ke depan. Ia memegang kapur tetapi hanya berdiri mematung di depan. “Ayo mulai, mengapa diam?” hardik Bu Erni. “Tidak bisa, Bu.” jawab Resti sambil menunduk, malu dan takut. “Makanya kalau tidak bisa, belajar. Jangan mengobrol saja!” marahnya. ”Ayo duduk!” perintahnya lagi.
“Sekarang siapa yang bisa, ayo ke depan!” ucap Bu Erni kepada semua murid. Aku berdiri dan menulis tentang sekolahku dalam bahasa Inggris. Bu Erni tampak puas. Katanya karanganku bagus. Lain waktu, Resti mengobrol lagi ketika pelajaran bahasa Inggris berlangsung. Dan itu membuat Bu Erni kesal. Ia mendapat PR spesial, yaitu menulis sebuah karangan tentang rumahnya. Kalau PR-nya tidak dikerjakan, ia tak boleh masuk kelas.
Pagi itu di bawah pohon nangka, Resti tampak menunggu seseorang. Ketika melihatku, ia tampak senang. “Tsuraya!” panggilnya. “Ya Resti, ada apa?” tanyaku. “Bisa ke sini sebentar?” pintanya. Dengan hati sedikit deg-degan aku mendekatinya. “Aya, aku minta maaf ya. Selama ini aku selalu meledek dan menghinamu. Itu karena aku sangat iri padamu. Kamu cantik, baik, pintar lagi. Semenjak kedatanganmu ke sini perhatian teman-teman dan guru-guru semua beralih padamu. Sekarang aku sadar, kamu tak pantas aku musuhi. Karena jujur, aku membutuhkanmu,” suaranya agak mengiba. “Resti percayalah, aku sudah memaafkanmu. Jadi sekarang kita berteman baik kan?”
Ada perasaan lega di dadaku. Tapi Resti masih kelihatan merenggut. “Terimakasih, kamu baik sekali. Tapi aku membutuhkan pertolonganmu,” keluhnya sambil menunduk. “Apa yang bisa kubantu untukmu Resti?” kataku bersungguh-sungguh. Resti menengadahkan kepalanya. “Aku belum menyelesaikan PR bahasa Inggrisku. Aku tidak bisa. Dan Siska sahabatku juga tak dapat membantuku. Kalau aku tak mengerjakan PR ini, aku tak boleh masuk kelas selama pelajaran Bu Erni,” lirihnya. Aku tersenyum. “Apa yang Bu Erni tugaskan padamu?” selidikku. Resti menunjukkan buku tugasnya. Aku lalu membacakan sebuah cerita pendek. Resti menyalinnya sambil sesekali kubantu cara menulisnya.