Tradisi Sedekah Bumi Jembul Tulakan Jepara

Tradisi sedekah bumi Jembul Tulakan Jepara
Sumber :
  • Heru Christiyono Amari

VIVA.co.id – Ratusan tahun silam, Desa Tulakan, Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, telah menyelenggarakan tradisi sedekah bumi ditandai hadirnya Jembul. Pemkab Jepara berniat menjadikan tradisi ini, sebagai salah satu wahana kepariwisataan. Tapi hal itu seperti slogan saja, tak diikuti langkah nyata. Sehingga tradisi itu, dari tahun-ketahun berjalan begitu-begitu saja. Walau harus diakui, penampilan tradisi Jembul Tulakan cukup uniek dan atraktif.

Di Jawa Tengah sedekah bumi (juga sedekah laut), dikaitkan rasa syukur warga desa atas kemurahan semesta yang telah memberi kehidupan. Diwujudkan dengan mengadakan hajatan/keramaian. Yang agak aneh, sedekah bumi di Tulakan-Keling, dihubungkan dengan kehadiran Adipati Ratu Kalinyamat trah Kesultanan Demak, yang memerintah Kadipaten Kalinyamatan-Jepara, 1536-1579 (70 Km Timur Tulakan).

Sepeninggal Sultan Fatah, pendiri Kesultanan Demak terjadi paregreg. Di antara para saudara Sultan, saling bunuh demi merebut kekuasaan. Pangeran Hadiri suami Ratu Kalinyamat, dibunuh prajurit Sultan Harya Penangsang di Kudus. Ratu Kalinyamat lalu bertapa ditepi kali kecil didukuh Sonder, diwilayah Desa Tulakan. Sang Ratu bersumpah, sampai jambul-wanen (beruban) tak akan mengakhiri pertapaannya, sebelum keramas darah dan keset kepala Harya Penangsang.

Jaka Tingkir bergelar Sultan Hadiwijaya raja di Kesultanan Pajang, lewat panglima perangnya, Sutawijaya (kelak menjadi Sultan Mataram), berhasil memenggal kepala Harya Penangsang. Kepala berlumur darah itu, dibawa dihadapan Ratu Kalinyamat. Sekaligus menandai berakhirnya masa pertapaan Sang Ratu. Moment itu yang menjadi cikal bakal tradisi Jembul Tulakan dan berlangsung hingga sekarang.

Istilah Jembul dikaitkan kata sumpah Ratu Kalinyamat (jambul-wanen). Jembul dibuat dari kumpulan/tumpukan serutan bambu, dipermukaannya dihiasi kain perca warna-warni. Bentuknya setengah lingkaran berdiameter satu meter, menyatu diatas ancak (pikulan dari aur). Di dalamnya ditaruh berbagai aneka makanan/penganan khas dari desa setempat seperti Jenang, Wajik, Gemblong, Gethuk, Dumbheg, juga nasi urap lengkap dengan lauk-pauknya.

Pada kirab sedekah bumi Jembul Tulakan, diadakan setahun sekali di Bulan Jawa Apit ; Empat dari lima dusun di wilayah Desa Tulakan, masing-masing Dusun Krajan, Dusun Winong, Dusun Ngemplak dan Dusun Drojo, membuat dan menampilkan Jembul. Sedangkan Dusun Pejing, sejak dulu tak menampilkan Jembul dan tidak ikut kirab. Sebab dianggap dusun tertua dan mandiri, diijinkan melakukan sedekah bumi sendiri, sepekan setelah sedekah bumi kirab Jembul Tulakan.